Tetanggaku Inspirasiku.. :D


"Ngeng..ngeng..." Kuderu kuda putih kecilku melintasi lorong rumah... "Tin..Tin.." secara sontak sambil mengumbar smile terbaik kuberikan klakson simpul kepada tetanggaku. Kami berpapasan tepat dibelokan lorong. Tante Mai.. Seorang cina mualaf yang menikah dengan om Puji, putra jawa asal Lampung.
Ada kisah tersendiri antara kami.. Berawal dari lelahnya aku yang seharian batal janji dengan sejumlah calon prospekan. Karena ga mau pulang dengan tangan kosong, aku memutuskan untuk nekad melepas lelah di Restoran Tante Mai sambil tebar pesona.. :D

Oya, aku berbisnis jaringan NuSkin (Perusahaan terkemuka internasional yang bergerak dibidang anti-aging). Berbeda dengan bisnis jaringan (MLM) lainnya, NuSkin tidak memungut uang pendaftaran member, cukup belanja sejumlah point udah bisa langsung bergabung. Ga ada uang datang tanpa usaha disini, jadi Upline ga bakal dapat uang jika ga kerja/kadalin Downline karena dia punya standar sendiri sebagai syarat keluarnya komisi.Ow.. ofcourse, bukan bisnis ini yang akan menjadi topik pembicaraan kita tapi tetanggaku tadi.. ok, check it out ya! ^_^

---
Tetanggaku ini cukup "misterius" karena amat jarang keliatan dan ini pertama kalinya kami bertemu..jangan bercanda ini bukan tentang love at first sight. Lol... Kebetulan aku mengajar ngaji (TPA) di Masjid dekat rumah dan anaknya, Nadia, salah satu muridku. Dengan senyum khas yang kupunya, kusapa Nadia, "Assalamu'alaikum Nadia.. Ustadzah pesen es cincau ya..". Nadia membalas dengan penuh semangat dan berlari ke dalam sambil berteriak, "Ma.. ada ustadzah..!"

Tante Mai tergopoh-gopoh menghampiri. Wah aku jadi ga enak, niatnya mo minum es dan sharing jadi salah tingkah. Aku memilih duduk tepat di depan meja kasir. Sambil menyedot es yang telah dihidangkan, kuamati timing yang tepat untuk mengajak ngobrol tante Mai. Yess dapat! Pas udah beres melayani para pelanggan, kuhampiri tante di meja kasirnya. Orangnya ramah dan terbuka. Gingsul khas tante Mai kerapkali terlihat ketika ia tersenyum lebar. mirip dengan punyaku. Hehe..

Tanpa perlu banyak basa-basi, kami saling mengenalkan aktifitas bisnis. Sebetulnya aku berharap tante Mai tertarik pada bisnis jaringan ini tapi ternyata ia malah menanggapi banyak tentang bisnis furniture. anyway Alhamdulillah.. Inilah kuliah umum itu bermula.. ^_^


Tante Mai, orang cina tulen. Lahir dan besar dalam dunia perdagangan di Lampung. Hijrah kemari karena membangun bisnis Chiki (snack). Awalnya ia membidik Semarang tapi karena lebih cepat dapat di Baturaja, ia memutuskan kemari. Ia memulai bisnis dari nol. Semasa gadis, ia berjualan gas tabung keliling Bandarlampung pake motor, yeah ia melakukannya sendiri. Dengan gigih, ia membawa tabung gas dan mengantarkannya ke pelanggan. Sampai suatu ketika ia berjumpa dengan om Puji. Om Puji jatuh hati.. Dengan penuh percaya diri, om Puji kerapkali menghampiri tante Mai di pasar dengan mengendarai mobilnya. Diluar dugaan, tante Mai justru mengusir om Puji seraya berkata, "Pulang sana! Kalo mau kemari ga usah pake mobil orang tua." Om Puji yang mendapatkan perlakukan begitu lalu pulang dan datang lagi dengan menumpang angkot. Persistent juga ini om ya, Lol.. 

Tante Mai menasihatiku, biar aja orang lain bilang kita galak tapi itulah prinsip kita. Kegalakan tante Mai inilah yang menjadikan chemistry antara mereka. Berselang beberapa waktu dari pendekatan itu mereka memutuskan menikah, tante Mai menjadi mualaf dan mereka merintis bisnis bersama. Kata tante Mai, om Puji anak pejabat tapi kalo mau menikah dengannya harus mau mengikuti gayanya, ga pake fasilitas orang tua dan berani hidup susah. Om Puji setuju. Pasca menikah, om Puji menjadi mitra bisnisnya tante Mai. Pengakuannya om Puji karena ia ga se-jeli tante maka om play-nya lebih ke teknis sedang tante Mai bagian hitung-hitungan.

Seiring waktu, usaha mereka kian membesar dan mulai menangkap peluang besar. Dulu bisnisnya pake motor kesana-kemari mengantar gas tabung, lalu berbisnis furniture sampai tersedianya banyak barang mebel-mebel antik dirumah hasil dari keuntungan, hingga akhirnya berbisnis chiki yang menyebabkan hijrah ke Baturaja. Bisnis tabung gas dan furniture dilakukannya semasa gadis, lalu tidak begitu lama setelah menikah beralih ke bisnis Chiki.

Mereka berbisnis chiki ini dengan skala milyaran. Dalam sehari banyak fuso hilir-mudik masuk ke pekarangan rumah yang telah disulap menjadi gudang-gudang besar (kini gudang tersebut diubah menjadi restoran). Mereka ga punya waktu untuk berleha-leha. 24jam rasanya sangat singkat untuk mengatur arus barang dan uang. Ga ada temu-sapa dengan para tetangga, kalaupun keluar rumah tujuannya ke pasar dan bank.

Sayangnya bisnis chiki ini ga berlangsung lama. Persaingan pasar yang sangat ketat ditambah perusahaan induk membuka cabang di tiap kota/kabupaten menyebabkan bisnis yang dijalankan tante Mai harus collapse. Tante Mai sempat mengalami shock beberapa bulan. Ia shock karena selama ini terbiasa sibuk hampir 24 jam disiplin menjadi nothing to do akibat memiliki banyak waktu luang. Ga tahan melihat kondisi sang istri, Om Puji menyarankan tante Mai untuk kembali ke Lampung sambil refreshing. Tante Mai mengiyakan.

Tante Mai yang ga bisa diam, memutuskan belajar masak dengan cece-nya yang juga memiliki restoran besar di Bandarlampung. Sepulang dari Lampung, mereka sepakat untuk berbisnis Restoran. Tante Mai berseloroh bahwa rezeki Allah yang mengatur, jangan khawatirkan karena semuanya milik Allah. Mau diambil dan dikasih kapanpun ya punya Allah. Aku mengangguk setuju. Aku mencoba berempati, Tentu pahit rasanya bagaimana selama ini mengolah omzet milyaran jadi receh (ratusan ribu perharinya). Yang dulunya menjadi nasabah istimewa menjadi nasabah biasa yang harus mengantri rapi tiap mau mengadakan transaksi perbankan. Tapi begitulah roda kehidupan. Tak ada yang bisa mengira pasti tentang hari esok..
---

Yeah.. Aku melihat tante Mai sosok yang begitu gigih. Ia memberiku semangat untuk terus berjuang. Ga usah malu dan gengsi untuk sesuatu yang halal dan thayyib. Inilah ritme kehidupan.. Kadangkala kita di puncak kesuksesan, kadang pula kita dilembah ujian. Dimanapun, letakkan Allah sebagai satu-satunya sandaran agar tak jemawa dan takabur terhadap sesuatu yang sudah pasti fana.


"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS.Al-Hadid : 22-23)


Yaa Rabb.. bimbinglah kami menuju apapun yang membuat Engkau ridha.. agar khilaf tak jadi hambatan, agar penyesalan tak jadi pemunduran...


Bersama deru angin malam, 19.8.14

Salam hangat,
Agatha R. Ardang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Faghfirli Yaa Rabb

Mewujudkan Keluarga Qur'ani