Soal Rasa



Aku tahu, rizqiku takkan diambil orang,
karenanya hatiku tenang. Aku tahu, amalku takkan 
dikerjakan orang, karenanya kusibuk berjuang.
(Hasan Al-Bashri)


Diantara makna rizqi adalah segala yang keluar masuk bagi diri dengan anugerah manfaat sejati. Nikmat adalah rasa yang terindra dari sifat maslahatnya. Kasur yang empuk dapat dibeli, tapi tidur yang nyenyak adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di alas koran yang lusuh, dan bukan di ranjang kencana yang teduh. Hidangan yang mahal dapat dipesan, tetapi lezatnya makan adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di wadah daun pisang bersahaja, bukan di piring emas dan gelas berhias permata.

Atau bahkan, ada yang memandang seseorang tampak kaya raya, tapi sebenarnya Allah telah mulai membatasi rizqinya.

Ada yang bergaji 100 juta rupiah setiap bulannya, tapi tentu rizqinya tak sebanyak itu. Sebab ketika hendak meminum yang segar manis dan mengudap kue yang legit, segera dikatakan padanya : "Awas pak, kadar gulanya!' Ketika hendak menikmati hidangan gurih dengan santan mlekoh dan dedaginan yang lembut, cepat-cepat diingatkan akannya, "Awas Pak, kolesterolnya!" Hatta ketika sup terasa hambar dan terlihat garam begitu menggoda, bergegaslah ada yang menegurnya, "Awas Pak, tekanan darahnya!"

Rasa nikmat itu telah dikurangi.

Lagi-lagi, ini soal rasa. Dan uang yang dia himpunkan dari kerja kerasnya, amat banyak angka nol di belakang bilangan utama, disimpan rapi di bank yang sangat menjaga rahasia, jika ia mati esok pagi, jadi rizqi siapakah kiranya? Apa yang kita dapat dari kerja tangan kita sendiri, dan kita menggenggam erat hari ini, amat mungkin bukan hak kita. Seperti hartawan yang mati meninggalkan simpanan tertimbun. Mungkin itu mengalir ke ahli warisnya, atau bahkan musuhnya. Allah tak kekurangan cara untuk mengantar apa yang telah ditetapkanNya pada siapa yang dikehandakiNya.

Rizqi sama sekali bukan yang tertulis di angka gaji.

"Seorang pemilik jejaring rumah makan dari sebuah kota besar Pulau Jawa," demikian cerita shahibul hikayat yang kami percaya,"dengan penghasilan yang besarnya mencengangkan, punya kebiasaan yang sungguh lebih membuat terkesima. Sepanjang hidupnya, tak pernah ia bisa berbaring di kasur, apalagi ranjang berpegas. Tidur dialas empuk hanya membuat punggungnya ngilu. Dia hanya bisa beristirahat jika menggelar tikar diatas lantai dingin, tepat di depan pintu."

Rizqi sama sekali bukan soal apa yang sanggup dibeli.

Ada lagi kisah tentang seorang pemilik saham terbesar sebuah maskapai penerbangan yang terhitung raksasa di dunia. Armada pesawat yang dijalankan perusahaannya lebih dari 100 jumlahnya. Tetapi dia menderita hyperphobia yakni rasa takut terhadap ketinggian, Seumur hidupnya, yang bersangkutan tak pernah berani naik pesawat.

Rizqi sama sekali bukan soal apa yang dikuasai.

Sebaliknya pula, ada seorang lelaki bersahaja yang tidak mampu membeli mobil sepanjang hidupnya. Tapi sungguh Allah telah menetapkan bahwa rizqinya adalah naik mbil kemana-mana. Maka para tetangga selalu berkata bergiliran pdanya, "Mas, tolong hari ini pakai mobil saya untuk kegiatannya ya. Saya senang kalau Mas yang pakai. Sungguh karenanya terasa ada berkah buat kami sekeluarga." Dan pemilik mobil pergi bekerja ke kantornya dengan mengayuh sepeda. Sebab itulah yang disarankan dokter padanya.

Rizqi sama sekali bukan soal apa yang dimiliki.

***

Dzat Yang Maha Mencipta kita, sekaligus menjamin rizqi bagi penghidupan kita, adalah Pemilik, Pemelihara, dan Pengatur segala urusan kita. Dialah Allah Ta'ala, tiada sekutu bagiNya. Maka bagaimana kiranya, jika anugerah dariNya justru kita gunakan untuk mendurhakaiNya..? Maka apa jadinya, jika dengan karuniaNya kita malah tenggelam dalam ragam maksiat dan aneka dosa?

"Sesungguhnya seseorang dihalangi dari rizqinya," demikian Rasulullah SAW bersabda sebagaimana dicatat oleh Imam Ahmad, Ibn Majah, Ath Thabrani Ibn Hibban, dan Al-Hakim, "disebabkan dosa yang dilakukannya."

Ada beberapa keterangan ulama tentang dosa menghalangi rizqi ini, yang selaiknya kita simak. Pertama, bahwa memang yang bersangkutan terhalang dari rizqinya, hingga ke bentuk zahir rizqi itu. Ini sebagaimana firman Allah SWT tentang dakwah Nuh AS pada kaumnya.

"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai- sungai”. [QS.Nuh : 10-12]

"Maknanya," demikian ditulis Imam Ibn Katsir dalam Tafsirul Qur'aanil 'Azhiim," jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepadaNya dan kalian senantiasa mentaatiNya, niscaya Dia akan membanyakkan rezeki kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit."

"Selain itu," lanjut beliau, "Dia juga mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakkan harta dan anak-anak kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya terdapat bermacam-macam buah untuk kalian, serta mengalirkan sungai-sungai diantara kebun -kebun itu untuk kalian."

Jika bertaubat menjadikan berlimpahnya bentuk rizqi, maka berdosa berarti membatalkan semua itu. Ini pemahaman pembalikannya.

Keterangan yang kedua, bahwasanya yang dihalangi dari sisi pendosa adalah rasa nikmat yang dikarunikan Allah dari berbagai bentuk rizqi tsb. Rizqi tetap hadir, tapi rasa nikmatnya dicabut. Rizqi tetap turun, tapi rasa lezatnya dihilangkan. "Maka," demikian menurut Imam An Nawawi, "karena dosa yang menodai hatinya , hamba tsb kehilangan kepekaan untuk menikmati rizqiNya dan mensyukuri nikmatNya. Dan ini adalah musibah yang sangat besar."

Hujjah bahwa semua bentuk rizqi itu tetap turun, ada dalam berbagai hadits Rasulillah SAW. Ada yang sudah kita sebut, demikian pula yang berikut ini:

"Sesungguhnya Jibril mengilhamkan ke dalam hatiku," demikian sabda Rasulullah SAW dalam riwayat Ibn Majah, "bahwa tidak ada satupun jiwa yang meninggal, kecuali telah sempurna rezekinya. Maka, bertawakkalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari rezeki. Jangan sampai lambatnya rezeki menyeret kalian untuk mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah. Karena apa yang ada pada sisi Allah, tidak akan bisa diperoleh dengan bermaksiat kepadaNya."

"Apa yang ada di sisi Allah," demikian lanjut Imam An-Nawawi, "adalah ridhaNya yang menjadikan rizqi itu ternikmati di dunia, berkah senantiasa, dan menjadi pahala di akhirat. Maka memang ia tak dapat diraih dengan kemaksiatan dan dosa."

"Adapun ayat dalam surah Nuh," diterusnya, :khithab da'wahnya ditujukan kepada orang kafir, yang meskipun mereka mengingkari Allah dan menyekutukanNya tapi Allah tidak memutus rizqi mereka secara mutlak. Akan tetapi, jika mereka beristighfar dan bertaubat, sesungguhnya karunia yang lebih besar pastilah Allah limpahkan."

Menghimpun kedua catatan ini, amat jadi renungan sebuah kisah tentang Imam Hasan Al Bashri. Pada suatu hari, seorang lelaki datang kepada beliau. "Sesungguhnya aku," ujarnya pada 'Ulama, Tabi'in agung dari Bashrah itu, "melakukan banyak dosa. Tapi ternyata rizqiku tetap lancar-lancar saja. Bahkan bisa lebih banyak dari sebelumnya."

Sang Imam tersenyum prihatin. Beliau lalu bertanya, "Apakah semalam engkau qiyamulail, wahai Saudara?"

"Tidak," jawabnya heran.

"Sesungguhnya jika Allah langsung menghukum semua mahluk yang berdosa dengan memutus rizqinya," jelas Hasan Al Bashri, "niscaya semua manusia di bumi ini sudah habis binasa. Sungguh, dunia ini tak berharga disisi Allah walau sehelai sayap nyamuk pun, maka Allah tetap memberikan rizqi, bahkan pada orang-orang yang kufur padaNya."

"Adapun kita orang mukmin," demikian sambung beliau, "hukuman atas dosa adalah terputusnya kemesraan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

***

Lagi-lagi termenungi, bahwa di lapis-lapis keberkahan, ini sola rasa. Semoga Allah melimpahkan rizqiNya kepada kita, dan menjaga kita dari bermaksiat kepadaNya. Dengan begitu, sempurnalah datangnya nikmat itu dengan kemampuan kita menikmati rasa lezatnya, lembutnya dan harumnya.Di lapis-lapis keberkahan, soal rasa adalah terjaganya kita dari dosa-dosa.



~Ustadz Salim.A.Fillah~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mewujudkan Keluarga Qur'ani

Faghfirli Yaa Rabb