Sepenggal Roman



Kita diam-diam saling harap
dalam waktu yang tak tepat
Kita diam-diam saling rindu
Tanpa mau menunggu

Adalah kita
Tegap berdiri saling memandang
dari kejauhan
Pura-pura tidak tahu

Saling menitipkan tanya kepada angin
Dan jatuh terbawa hujan
Lalu kita simpan
Menyatukannya dalam tumpukan kenangan

Ternyata kita tidak benar-benar menutupnya
Karena kita tidak mau
Ternyata kita tidak benar-benar melupakannya
Karena kita merindukan masa lalu

Ah..
Adakah yang lebih menyebalkan
dari kerapuhan kita
Mengukir senyum rapi
Padahal menutupi ribuan tanda kali dan bagi

Adakah yang lebih membingungkan
dari kesibukan kita
Meliuk-liuk dalam labirin yang kita buat sendiri
Berkerut dahi dalam masalah yang kita reka sendiri
Sibuk dalam urusan yang tak membuat kita beranjak sama sekali

Kemanakah kita sebenarnya?
Seperti purnama dan gerhana dengan bulan yang sama
Seperti malam dan siang dengan matahari yang tak mendua

Mungkin ada alinea yang belum berakhir
Namun kita akhiri
Mungkin itu sekedar bait sumir
Yang belum rampung kita tulisi

Ah ya..
Itu hanyalah mungkin
Seperti puzzle yang terserak
Dan kita hanya menebak
Adakah gambar utuh di sana
Ataukah tidak

Namun kita tak bisa hanya menunggu untuk tahu
Semestinya kita coba susun puzzle itu
Satu demi satu.


Garut. 14 Mei 2014 | Rashid Satari

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Faghfirli Yaa Rabb

Mewujudkan Keluarga Qur'ani