Ketika Cinta, Komitmen dan Ekspansi Bertemu


Bila kita berkomitmen terhadap sesuatu secara serta merta kita akan memberikan TOTALITAS. Pada keluarga, bisnis, organisasi, dst. Ada cinta disitu, energi besar yang terpatri dan mengejawantah dalam tindakan ril. Maka sepakatlah dengan syair Imam Syafi'i :

Bila ada Cinta disisimu
Maka segala kan jadi enteng
Apa yang di atas tanah
Hanyalah tanah jua

Kita tlah mengikatkan diri di jalan dakwah ini maka jadilah seperti syair KH.Rahmat Abdullah :

Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai


Totalitas akan melahirkan ghirah Ekspansi, menyebarkan dakwah ke setiap lini kehidupan. Tak ada lagi sekat antara Agama ibadah dan keduniawian karena Agama pun menaungi duniawi. Tak ada lagi agamis konvensional dan modernitas Islam karena Islam selaras dengan perkembangan zaman. Tak ada lagi pembedaan kelas ibadah, politik dan ekonomi ; karena semuanya ada rule-nya dalam Islam. Islam adalah Cinta, komprehensif, integral, menyeluruh ke segala aspek.

Tapi akan menjadi dilematis bila Cinta, Komitmen dan Ekspansi ini bertemu. Sebagai mahluk berhawa nafsu kita memiliki keinginan bersatunya kecenderungan kepada kebenaran. Yang dimaksud disini adalah ketertarikan kepada lawan jenis. Kita ingin rasa cinta ini bisa terwujud dalam persatuan ruh dan raga, pernikahan. Sebagai kader dakwah, ada semangat berdakwah yang melambung tinggi, ekspansi. Kita ingin orang yang kita nikahi juga menjadi kader seperti kita. Beruntunglah mereka yang menikah antar sesama kader dakwah karena tidak ada PR mewarnai, melainkan menguatkan. 

Yang jadi menarik saat cinta ini jatuh kepada orang diluar kader. Itulah mengapa para asatidz kita seringkali menasihati untuk tidak jatuh cinta tapi bangun cinta. Tapi Nabi pun bersabda, "Tidak ada yang lebih indah daripada dua orang yang saling mencintai selain pernikahan." Ada solusi disana, solusi terbaik bagi mereka yang memiliki kecenderungan yang sama. Maka kita mengenal kebiasaan orang-orang shalih itu menjodohkan.

Bagi akhwat (maksud disini adalah kader dakwah/seharakah), keharusan menikah dengan kader dakwah adalah pilihan mengingat kuantitasnya yang lebih besar daripada kuantitas ikhwan. Tetapi bagi ikhwan, melewati pilihan terhadap aktifis dakwah adalah 'kezhaliman'. Dia telah berlaku zhalim dengan tidak 'menyelamatkan' saudarinya. Bagaimana heroiknya perjuangan saudarinya untuk Istiqamah di tengah medan perjuangan n usia. Bagaimana tadhiyah saudarinya untuk terus berkontribusi ditengah godaan zaman. Kaum hawa kerap kali sungkan menampilkan ke permukaan bagaimana perasaan sesungguhnya yang mereka alami. Mereka cenderung 'bekerja dalam diam'. Maka kepekaan dan tadhiyah sebagai peran dari saudaranya dibutuhkan disini. Bila komitmen berjama'ah itu diletakkan diatas  hasrat pribadinya maka noise ini bisa ditiadakan bukan..?

Memang, tidak ada jaminan keharmonisan hidup sesama aktifis dakwah tapi tak ada pula garansi tekad mewarnai pasangan setelah menikah itu bisa terlaksana. Artinya, apa yang bisa terjadi di masa depan itu fifty:fifty tetapi kita bisa mengukur tingkat keberhasilan/pencapaiannya. Bukankah Visi besar dakwah akan semakin besar bisa tercapai dengan Kesolidan Internal..? Bukan lagi soal penyelesaian PR yang dibawa dalam sebuah pembentukan usrah..?

Wallahu a'lam bi shawab, 'afwan minkum..

Semoga Allah selalu mencintai dan meneguhkanmu duhai saudariku..
Ana Uhibbukum fillah..

Baturaja, 4 Mei 2015
Warmest Regards,

Agatha Rizky

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Faghfirli Yaa Rabb

Mewujudkan Keluarga Qur'ani