Cerpen : Kisah Kasih Yang Tak Sampai



Perkenalkan namaku Eni Nuraeni, seorang guru SD di Garut. Aku tlah berumah tangga dengan 2 orang putri. Aku bahagia dengan kehidupanku sekarang dalam kehangatan keluarga yang selalu mmberikanku energi, kecukupan rezeki, dan suami yang sangat baik.. Suamiku juga orang sunda namanya Asep Gemilang, walaupun kami menikah karena perjodohan melalui sahabat, kami tidak mengalami banyak penyesuaian dalam adat dan bahasa. Hanya perbedaan tingkat emosional, yang ku pikir hal biasa dalam rumah tangga.

Pertemuanku dengan kang Asep diawali ketika ta’aruf. Kami dikenalkan oleh sahabatku neng Ike Nurmala dan kang Asep melalui suaminya Ike, kang Indra Gunawan. Saat itu aku masih honorer di SDN1 Garut dan kang Asep PNS di Kantor Pemda Garut. Awalnya aku tidak ada perasaan apapun kepada kang Asep hanya bermodalkan percaya kepada sahabat shalihat dan tawakkal kepada Allah. Proses demi proses pun berlangsung cukup mulus hingga akhirnya kami menikah 5tahun lalu.

Aku bukanlah aktifis dakwah seperti neng Ike maupun suaminya kang Indra. Aku cuma suka ikutan kajian muslimah yang sering diadakan oleh neng Ike sejak di kampus UPI Bandung sampai kami sama-sama kerja di Garut. Berjilbabpun ketika masuk kuliah itu juga belum begitu rapi. Kang Asep lebih baik, dia aktifis LDK semasa kuliah di UNPAD dulu.

Aku sangat menikmati kehidupanku sekarang, hingga terjadi sesuatu yg tak pernah kukira sebelumnya. Kehadiran sosok spesial dimasa lalu, kang Rama. 3 hari yang lalu kang Rama menuturkan perasaannya selama ini terhadapku. Tapi kenapa baru sekarang..? Ketika aku bahkan dia sudah menikah dan memiliki anak-anak. Kenapa dia tidak katakan saat aku selalu menantikan itu dahulu..? Yaa Rabbi.. ampuni kami...

Kang Rama adalah sahabat sejak SMA hingga kami kuliah di kampus yang sama, aku jurusan Bahasa Indonesia dan dia Bahasa Inggris. Kami memang tidak pernah menyatakan pacaran walaupun hal itu mnjadi tanda tanya bagi yg lainnya karena kami memang sangat akrab. Kang Rama, tipe orang yg sangat baik. Dia selalu ada kapanpun aku butuhkan. Aku yg terlahir sebagai bungsu dari 2 saudara berkarakter sangat manja dan klop dengan dia yg begitu dewasa sebagai anak pertama dari 3 saudara dalam keluarganya.

Kang Rama tidak pernah menolak permintaanku. Dia selalu membantuku, sejak masa SMA hingga kuliah. Dia juga selalu sabar menghadapi bawelanku. Bagiku, kang Rama adalah sosok yg ’sempurna’ dengan segala kebaikannya. Pernah kala itu tugasku ditolak dosen pengajar sehingga aku harus bolak balik mengurus remedi. Aku yang lamban rasanya sangat sulit harus melakukan remidi. Aku hampir putus asa. Tiba-tiba kang Rama yg selalu disisiku menawarkan bantuannya. Lebih tepat dialah yg menyelesaikannya. Beginilah aku selalu merepotkan kang Rama, dan kang Rama pun menjadi sosok yg sangat mau direpotkan olehku.

Masa itupun tiba. Tatkala kami tengah bersiap sidang skripsi, kakak sulungku a’ Chepi yang berjarak 5 tahun dariku bertanya tentang kejelasan status hubunganku dengan kang Rama. Aku katakan bahwa kami bersahabat baik, walalu batinku justru berteriak, "eneng mencintainya a’.." Kakakku pun bertanya bagaimana perasaan Rama sendiri, kujawab "sama" asal. Kakakku hanya berpesan, kenapa kalian tidak jadian saja lalu menikah bukankah sudah sangat dekat. Aku hanya beralasan, " tidak mungkin kami menikah karena kami sahabat sejati a’. lagipula eneng dan kang Rama mah punya kriteria masing-masing atuh..,"ujarku dengan hati sumbang.

Yeah, aku jatuh cinta pada kang Rama sejak kelas 2 SMA saat kami mengerjakan tugas KIR bersama. Tapi aku tak pernah mengutarakannya karena kulihat kang Rama pun tidak pernah menunjukkan gerak gerik mencintai sebagaimana para remaja lainnya yg tidak segan mengungkapkan kata-kata romantis ataupun kado di hari Valetine. Kang Rama selalu tampil sopan dan baik padaku. Sampai kami kuliah pun masing-masing kami tidak ada yg berpacaran.

Aku sudah lama menantikan ungkapan perasaan cinta Kang Rama untukku tapi itu tidak pernah kudapati hingga 3 hari yg lalu.  Kenapa baru sekarang kang, ketika aku tlah membuka pintu hatiku pada kang Asep dan bersama anak-anak..? Kau hanya menunduk seraya menjawab lirih, "karena aku terlalu takut menghadapi kenyataan bila kau ternyata tak mencintaiku dan menjauhiku, neng.."

ah.. Tak usah kubuka kembali lembaran itu. Biarkan ia tersimpan rapi disudut hatiku yg lain.  Engkau masih disana kang, sebagai sosok yg berarti di masa lalu. Terima kasih atas segala kebaikanmu kang..

Aku meninggalkanmu dalam gerimis hujan di sore itu tanpa memberikan tanggapan. Aku tahu ada butiran bening yg menggelayut di sudut matamu, demikian pula dengan aku yg butirannya tlah bercampur dengan rintihan hujan di pipiku...

-Dalam Kemarau Merindukan Hujan, 14.10.2014-



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mewujudkan Keluarga Qur'ani

Faghfirli Yaa Rabb