Disinilah Kumenemukan Cinta...

Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” (HR. Tirmidzi no. 3522)

Hidayah Allah ta’ala bisa datang kepada siapapun tanpa mengenal ras dan agama. Hidayah datang tidak khawatir dengan letak geografi yang terbentang jauh dari Baitullah, tidak sungkan dengan status sosial dan tidak membedakan gender. Hidayah datang bisa kapanpun, disaat bagaimanapun.  Bahkan bisa jadi hidayah itu datang disertai kondisi yang memaksa seperti halnya diriku.

Aku pertama kali mengenal tarbiyah karena situasi yang mengkondisikan. Setelah lulus SMA dengan psikis labil akibat tidak lulus ditempat yang kuimpikan aku justru ditawari ikut ngaji sama teman-teman alumnus SMA. Duniaku kala itu sangat berbeda dengan mereka. Aku hanya pernah menempelkan nama sebagai anggota ROHIS melalui ketuanya karena efek euforia training PII (Pelajar Islam Indonesia) sedang mereka adalah anak-anak ROHIS sejati. Aku dan the genk hobi membuat keramaian, seolah terpasang label “bebek” di masing-masing jidat kami hingga tanpa perlu introduction cukup melihat kami bertiga merupakan sinyal kuat akan terjadi kebisingan berikutnya. Sedang mereka adalah siswa putri yang begitu menjaga adab pergaulannya. Berbeda nyata itulah bahasa matematika dalam himpunannya dan berbanding terbalik dalam istilah dunia fisika. ^_^

Frankly, aku mengikuti liqo karena tak ada alasan menolak untuk kesekian kali yang akhirnya jadi keranjingan di LDK (Lembaga Dakwah Kampus) dan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) meski separuh hati. Hehe.. Senangnya, semua itu tidak berlangsung lama, aku harus terbang ke Kota Hujan karena pengajuan beasiswa-ku lulus. Ini bagaikan angin segar pagi hari di tengah gurun sahara bagiku. Sebuah kesempatan emas untuk kembali normal setelah tekanan psikis yang membebani akibat gagal masuk jurusan yang kuimpikan dan keterpaksaan dalam lingkaran itu –liqo-.
***
Kampus baruku memang unik dengan luasnya yang “wow imoet” dan perbukitan jalannya malah ngingetin soundtrack ninja Hatori, hehe.. Saking pangling dengan kampus ini, aku lupa bawa pulpen lho untuk registrasi ulang alhasil harus pinjem sana-sini. Syukur banget watak anak bolang yang tebal muka ngefek baik disini, tanpa tendeng alih-alih aku pinjem aja ma teteh yang gi ngisi KRS. :D

Dulu aku benci ikut liqo karena sesi hapalan quran-nya yang bagiku tersendiri merupakan siksaan jiwa ditambah jilbab temen-temen seliqoanku yang ga tanggung-tanggung, pada puanjang..! Impianku untuk hidup tenang harus ditunda sementara waktu karena di kampus baruku pun ada semacama liqo –disini namanya mentoring- yang bersifat wajib bagi mahasiswa baru. Aku sudah sangat berhasil memvisualisasikan aktifitas mentoring yang akan terjadi hingga aku bertemu sesi “seram” itu lagi. Beberapa kali aku membolos mentoring dengan alasan-alasan klasik sampai bombastik –tanpa kabar- yang akhirnya meletakankku pada titik jenuh dimana aku menjadi ga enakan ma teteh yang selalu mengizinkan.

Kupaksakan seret langkahku yang terseok-seok menuju lingkaran mentoring dan masih ku dapati sesi you know what itu. Namun sebelum harus berakting keras menghapal, ada sesuatu yang membuatku merasakan kenikmatan dalam membaca alquran padahal dengan kesadaran diri penuh aku membaca quran secara terbata-bata banyak salah pula. Entahlah nikmat apa itu, rasanya begitu tenang dan membuat dahaga untuk terus membacanya. Entah apa juga yang merasukiku, akhirnya aku ga mau tertinggal hapalan dari teman-teman sementoringku meski harus jungkir balik.

Aku bukan tipe putri yang berjilbab rapi panjang menutup dada dan berakhlak lembut sebagaimana teteh-teteh di kampus. Aku justru merasa salah masuk kamar –mentoring- dengan jilbab menutup dada seadanya, celana jubrai yang suka kupakai pas ke warteg, dan perilaku ku yang seringkali mirip kembang api. Walaupun aku tau perintah menjulurkan jilbab sampai menutupi dada (rapi) dan ketidakbolehkan berpakaian menyerupai laki-laki tetap aja ku lakukan meski sembunyi-sembunyi. Tak ada alasan bagiku untuk melakukannya selain pemakluman karena aku merasa masih muda bo’ dan perilakuku pun masih tak sesempurna wanita sholihah.

Di kampus ini aku tidak aktif di organisasi manapun, aku hanya ingin SO (study oriented), titik. Tapi lagi-lagi dengan langkah terseok-seok aku harus kembali terlibat di LDK dengan label anggota pasif –setiap mahasiswa muslim adalah anggota pasif, tidak masuk struktural- yang kemudian menyeretku menjadi anggota aktif –ikut serta sebagai staff di salah satu bidang- LDK. Karena sedari awal niatnya hanya ikut-ikutan secara terpaksa jadilah aku kader zombie yang datang hanya bila dipanggil dan menghilang ketika ada kesempatan. Ada dan tidak ada, ga ada bedanya. Gimana kabar mentoringku? Masih berjalan dengan langkah tertatih-tatih. Menyedihkan.. hiks..hiks..

Ada satu tausiyah teteh dan tugas mentoring yang menjadi titik tolak perubahan diriku. Berhasil membuatku berubah dan mengaazzamkan diri untuk istiqomah di jalan tarbiyah ini yaitu tentang kematian dan perangkuman sirah Nabawiyah karya Al-Buthi sebagai tugas tausiyahku.

Kullu nafsindza iqotul maut, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Bisa jadi hari ini kita tertawa bahagia tapi semenit atau keesokan hari kemudian menemui ajal. Dalam kondisi demikian, bekal apa yang akan kita persembahkan kepada Allah sedang sudah begitu banyak nikmatNya yang telah diberikan Cuma-Cuma. Apa kita sudah siap sedang kita asyik bergelimang maksiat..? duh, episode ini yang sukses membuatku menangis. Aku semakin menundukan wajah, malu mendengar lanjutan kata-katanya..

Gayung pun bersambut. Letupan keinginan berubah dan menikmati mentoring ini disambut dengan penugasan meringkas beberapa bab Sirah Nabawiyah, dari Isra’ Mi’raj sampai Fathuh Makkah. Ada sebuah eksitasi besar yang menggemakan chemistry dalam aliran darah mudaku. Beuh.. Ada jawaban jelas lagi terang akan pertanyaan yang kusimpan selama ini. Meski bukan segalanya, betapa pentingnya kekuasaan dalam menopang dakwah. Analoginya, ketika dakwah diam-diam hanya beberapa yang masuk Islam tetapi ketika kekuatan Islam mampu menaklukan kota Makkah maka seluruh penduduk kota itu menjadi muslim. Impression! Bagaimana mengamati sejarah dan mengaitkan dengan kenyataan hari ini akan memicu sebuah internal power untuk berafiliasi dan bergerak menuntaskan perubahan dalam diri.

“Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.”-Sahabat Umar bin Kaththab ra-
***
Sebagai anak bawang dalam organisasi dakwah, tak banyak yang bisa diperbuat. Ketika ada keluhan maka di lingkaran itulah kami mengutarakan baik keluhan personal maupun organisasi legal formal. Pernah suatu ketika terjadi polemik dimana profil kader LDK dianggap eksklusif dan autis terhadap anggota pasif. Kami yang berdarah muda berharap teteh akan memberikan jawaban bahwa itu fitnah dan mengutuk pihak yang mengobarkan wacana tersebut. Tetapi beliau malah berujar “Kita lah yang harus menunjukan keinklusifan itu tanpa banyak alasan menghindar apalagi menyalahkan. Cukup kita memperlihatkan bantahan dengan perilaku terbaik kita secara hikmah”.  Saat itu makin kompak manggut-manggut mengiyakan, karena perubahan itu tidak akan terjadi dengan gerutuan dan hujatan melainkan tindakan.

Dalam tarbiyah ini, kami tak diajarkan bermain lidah memanipulasi keadaan dan jawaban untuk pembenaran tetapi bagaimana mentransformasi pikiran menjadi aksi mengubah keadaan. Hingga yang tampak hanyalah bekerja tanpa banyak keluh kesah..

“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” [At-Taubah : 105].

Beginilah tarbiyah mengajari kami. Mentoring yang awalnya begitu membosankan jadi tempat yang mengasikan dimana kami bisa berdiskusi bersama tentang apa saja. Tidak jarang suasana mentoring jadi hidup dengan pertanyaan serius dan banyolan kami, bahkan yang tiba-tiba tanpa angin badai bernasyid ria pun ada. Benar-benar rumah penuh warna.. Dan disinilah kumenemukan cinta.. Alhamdulillah...^_^

bumi Allah, 20 Februari 2012.
pelangihati in mosaic of love

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mewujudkan Keluarga Qur'ani

Resensi 'Strategi Pemenangan Pemilu AKP di Turki dan PKS di Indonesia (Studi Perbandingan) '