Resensi 'Strategi Pemenangan Pemilu AKP di Turki dan PKS di Indonesia (Studi Perbandingan) '


Buku ini merupakan dari hasil karya disertasi S3 Ilmu Politik FISIP UI. “Strategi Pemenangan Pemilu PKS di Indonesia dan AKP di Turki : Studi Perbandingan” karya DR. Sitaresmi S Soekanto, yang melakukan penelitian (dibatasi) pada rentang waktu 1999-2009. Variabel penelitian yang digunakan meliputi faktor ideologi, organisasi, basis massa, sistem rekrutmen, kepemimpinan, dan strategi pemilu.

A. Aspek-Aspek Pemenangan Pemilu PKS di Indonesia
1. Pengaruh Faktor Ideologi
PKS adalah partai politik Islam yang lahir dari gerakan Tarbiyah dan berbeda secara ideologi dengan Partai Golkar, PDIP, Partai Demokrat, PAN, PKB, Hanura dan Gerindra yang mencantumkan di AD/ART masing-masing sebagai partai nasionalis berideologikan Pancasila. PKS memiliki kesamaan ideologi Islam dengan PPP karena sama-sama mencantumkan di AD/ART masing-masing namun berbeda dari segi basis massanya. PKS memiliki basis massa urban perkotaan terutama di kampus dan sekolah sedangkan PPP lebih memiliki basis massa tradisional. PKS berbeda dengan PAN yang berideologi Pancasila namun sama-sama lahir dari organisasi Islam dan memiliki kesamaan basis massa. Ideologi Islam yang dicantumkan PKS dalam AD/ART tidak membuat PKS menyatakan ingin mendirikan negara Islam karena menyakini nilai-nilai Islam yang nyata adalah perjuangan mengentaskan kemiskinan, kebodohan, dan kelaparan. Sikap moderat PKS juga terlihat dengan tidak pernah mengajukan ide negara Islam melainkan mengusung masyarakat Madani dalam NKRI sebagaimana dalam platform PKS yang berpartisipasi di dalam parlemen dan pemerintahan.
PKS di tahun 2008 di Mukernas PKS di Bali mulai mewacanakan nilai-nilai kebangsaan dan menyebut dirinya sebagai partai Islam terbuka sebagai upaya menjadikan PKS lebih inklusif dan toleran terhadap pluralitas masyarakat. Perubahan yang nampak pada PKS dari sebelumnya PK sering difahami orang sebagai perubahan dalam hal ideologi. Hal tsb terbantah dari pernyataan founding father PK, Hilmi Aminuddin, Ketua Majelis Syura PKS yang menegaskan bahwa bentuk ideal yang diperjuangkan oleh PKS bukan Islamic State atau model teokrasi melainkan masyarakat Madani atau masyarakat yang berperadaban dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebajikan universal. Menurutnya, pemerintahan Islam dalam pandangan PKS adalah bukan sebuah pemerintahan yang dideklarasikan sebagai negara Islam, melainkan negara yang secara substantif memiliki dan melaksanakan nilai-nilai Islam sehingga boleh jadi apa yang kini disebut sebagai good governance dan clean goverment pada hakikatnya adalah pemerintahan Islam.
Secara nilai, ideologi Islam PKS tidak pernah berubah, namun yang mengalami perubahan adalah kemampuan para kader PKS dalam memahami dan mengimplementasikan ideologinya secara utuh. PKS masih terus melakukan proses adaptasi ideologis dengan cara mengemas nilai-nilai Islam bukan dengan bahasa agama melainkan dengan pembahasan yang lebih memasyarakat di Indonesia.
2. Pengaruh Faktor Organisasi
Organisasi PKS sejak 1999 hingga 2009 masih merupakan organisasi kader dan karena sistem kaderisasinya cell system, maka otomatis organisasinya juga berbentuk seperti sel. Salah satu ciri partai sistem sel adalah bersifat sentralistik dan ini dibenarkan bahwa struktur organisasi PKS memang sentralistik dilihat dari kewenangan penuh Majelis Syura, DPTP (Dewan Pimpinan Tingkat Pusat sebagai pelaksanan harian Majelis Syura dan DPP yang tertera di AD/ART.
Lembaga tertinggi di PKS adalah Majelis Syura yang terdiri dari 99 orang dengan rincian 57 berasal dari utusan dan 42 orang pakar yang dipilih oleh 57 orang anggota terpilih sebelumnya. Lembaga ini bertugas memilih Ketua Majelis Syura (MS) dan menetapkan Presiden partai, Ketua Dewan Syariah Pusat (DSP), Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP), Sekretaris Jenderal (Sekjen) dan Bendahara Umum (Bendum). Keenam anggota Majelis Syura tsb disebut Dewan Pimpinan Tingkat (DPTP). Majelis Syura memiliki kewajiban dan hak menentukkan arah keihakan partai, menentukan calon Presiden Ri dari partai serta melakukan amandemen konstitusi. DPP yang dipimpun oleh Presiden adalah badan eksekutif yang melaksanakan keputusan-keputusan DPTP dan MPP merupakan badan legislasi dan pertimbangan. Sedangkan DSP merupakan badan legislasi dalam bidang syariah, sementara Sekjen menjalankan manajemen organisasi dan Bendum menerapkan strategi pendanaan kegiatan-kegiatan partai.
Enam pimpinan yakni Ketua DPTP, Presiden PKS/Ketua DPP, Ketua MPP, Ketua DSP, Sekjen dan Bendum sebagai pihak yang mengontrol pengelolaan organisasi partai dan sumber daya yang dimilikinya sebagai pelaksana harian Majelis Syura. Namun kemudian wewenang tsb secara teknis operasional dilimpahkan ke Badan Eksekutif Partai yakni DPP, sehingga dalam hal ini yang memegang kekuasaan cukup besar untuk mengontrol organisasi adalah Presiden PKS.
Soliditas struktur organisasi PKS selama tiga pemilu (1999, 2004 dan 2009) merupakan mesin yang berpengaruh bagi pemenangan pemilu PKS. Namun manajemen organisasi termasuk manajemen SDM, kaderisasi dan informasi yang belum rapi dan profesional menyebabkan faktor organisasi berpengaruh secara signifikan hanya di pemilu PKS di 2004, sementara di pemilu 1999 belum berpengaruh karena tidak memiliki kelengakapan struktur. Sedangkan di pemilu 2009 , kurangnya kemampuan pengendalian struktur organisasi yang membesar menyebabkan pemanfaatannya menjadi kurang optimal terutama di struktur terdepan yakni di DPRa sehingaa kurang berpengaruh bagi pemenangan pemilu 2009.
3. Pengaruh Faktor Basis Massa
Bila dilihat dari teori voting behaviour, fenomena basis massa PKS yg merupakan kelas menengah dan umumnya terdiri dari kaum terdidik berubah-ubah preferesinya di setiap pemilu. Kelas menengah berpendidikan, melek politik, egaliter, akomodikatif, dan menerima keberagaman sehingga memilih sebuah partai politik lebihberdasarkan pilihan rasional. Namun dimasyarakat kelas bawah atau akar rumput, faktor kekerabatan atau kekeluargaan menjadi alasan kuat untuk memilih sebuah partai politik, selain pragmatis karena politik uang.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan jumlah perolehan suara, PKS harus mendapatkan pula dukungan basis massa yang loyal yang memilih atas dsar sosiologi dan psikologi serta umumnya berasal dari masyarakat akar rumput. Hal ini terbukti di Pemilu 2009 yakni walaupun suara PKS menurun, terutama di daerah kantong suara PKS seperti Jakarta, ternyata bila dilihat dari perolehan kursi secara keseluruhan malah meningkat. Sebab dengan perolehan suara yang hanya naik tipis menjadi sebesar 7.88% di pemilu 2009 jumlah kursi PKS meningkat menjadi 57 dari sebelumnya 45 karena ada penambahan dukungan suara dari Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera juga Jawa Tengah dan Jawa Timur serta Madura. Nampak ada perluasan peta basis massa PKS, sehingga pemilu PKS tidak hanya berasal dari kelas menengah melainkan juga dari basis massa loyal yang umumnya memilih atas dasar sosiologis dan psikologis yakni masyarakat akar rumput.
4. Pengaruh Faktor Sistem Rekrutmen
PKS termasuk jenis partai cell yang sistem rekrutmennya mirip dengan partai komunis yang lebih memperhatikan kualitas rekrutmen daripada kuantitas dan bersifat sentralistik. Di dalam AD/ART PKS keanggotaan dibedakan : anggota pendukung yang terdiri dar anggota pemula dan muda, serta anggota inti yang terdiri dari anggota madya, dewasa dan ahli. Dari data bidang kaderisasi didapatkan data bahwa pada tahun 2004, jumlah kader/anggota pendukung PKS sebesar 374.746 orang dan kader inti 21.444 orang. Sementara pada tahun 2009, jumlah kader pendukung 496.782 orang dan kader inti 36.021 orang. Dan perolehan suara tahun 1999 sebesar 1.431.482, tahun 2004 sebesar 8.325.020 dan tahun 2009 sebesar 8.204.946.
Diakui adanya ketersendatan pertumbuhan kader, paling tidak ada beberapa sebab : Pertama, hambatan aspek konsepsional yakni manhaj (konsep dan kurikulum) rekrutmen anggota PKS baru diselesaikan desainnya setelah 2007 dan belum lengkap pula isinya, sehingga belum sampai pada tahap bagaimana mengimplementasikan manhaj agar kader leih berkualitas, berpengaruh, dan daya rekrutnya lebih banyak. Kedua, masalah kontrol atau evaluasi pertumbuhan kader yang kurang (lemahnya manajerial struktur).
Kemampuan ekspansi basis massa tidak dibarengi dengan kemampuan mesin rekrutmen kader karena kekurangan instruktur. Usia muda produktif para kader PKS membuat mereka juga banyak yang meniti karir di berbagai profesi sehingga memiliki keterbatasan waktu untuk membesarkan partai dengan misalnya menjadi pengurus di struktur atau berkontribusi dalam rekrutmen kader baru. Sedangkan kader-kader utama PKS yang umumnya adalah instruktur produktif banyak mulai yang membina karir di politik.
Sementara regenerasi sebagai instruktur atau pengurus di struktur belum berjalan lancar, akibatnya kapasistas rekrutmen dimiliki kader masih rendah. Ditambah lagi sistem rekrutmen anggota dan kaderisasi atau pembinaan di PKS membutuhkan rentang waktu yang cukup panjang karena berjenjang dengan seleksi serta evaluasi di setiap jenjang. Namun pola kaderisasi dan manhaj (metode serta kurikulum) yang baku dikhawatirkan dapat memunculkan kejenuhan di sebagian kader yang merasa terbebani banyak kewajiban dan kurang mendapatkan penyegaran. Oleh karena itu, seharusnya tidak boleh ada stagnasi dalam sistem secara terus-menerus sebagai hasil budaya “sharing” yang belum sepenuhnya terbangun di PKS. Untuk menjadi partai besar, faktor kader masih tetap penting bagi perolehan suara PKS namun seiring dengan perkembangan partai, kader bukan lagi menjadi faktor pertama dan utama untuk memenangkan pemilu.
5. Pengaruh Faktor Kepemimpinan
Kepemimpinan politik kontemporer merupakan interaksi antara faktor karakter personal pemimpin, karakteristik kosntituen yang dipimpin, pola interaksi di antara keduanya serta pengaruh konteks sejarah, politik, sosial dan budaya tertentu. Kader-kader PKS memiliki tipe kepemimpinan yang berotoritas legal formal karena dipilih melalui pemilu. Namun sayangnya, mereka kurang mampu membangun penerimaan masyarakat secara luas dan tidak terkategori pula sebagai pemimpin kharismatik.
Hilmi Aminuddin, pendiri PKS merupakan sosok yang disegani sejak masih berupa gerakan tarbiyah hingga menajdi PK dan pKS, namun ia menemparkan diri sebagai guru, mentor, murabbi, pembinan yang menjadi “King Maker” dan tidak menempatkan diri sebagai tokoh publik. Dalam perkembangannya nampak bahwa PKS baik dalam wacana maupun prakteknya lebih mengutamakan kepemimpinan kolektif dalam pengertian lebih banyak figur pemimpin yang dimunculkan dan bukan hanya menumbuhkan figur sentral secara nasional. Namun nampaknya kebijakan tersebut tidak tepat untuk masyarakat Indonesia karena mereka menjadi sulit untuk mengasosiasikan PKS dengan sosok pemimipn tertentu yang dikenal luas. Akibatnya faktor kepemimpinan tidak berpengaruh positif pada perolehan suara PKS di tiga pemilu (1999, 2004 dan 2009).
Persiapan para kader PKS untuk menempati jabatan-jabatan publik juga masih kurang karena ada kultur yang menghambat proses penyiapan pemimpin yakni kurangnya budaya open minded dan saling mengapresiasi. PKS dianggap belum cukup serius memunculkan kepemimpinan sebagai salah satu faktor yang signifikan untuk memenangkan pemilu, misalnya dengan tidak memunculkan figur sentral dalam konteks nasional. Hal itu sebenarnya bisa diatasi jika tetap dilakukan penajaman fokus dalam penokohan kader PKS yang bisa dijual ke publik.
Ada lagi faktor kepemimpinan selain faktor pejabat publik PKS baik di organisasi PKS, di lembaga eksekutif maupun lembaga legislatif yakni Kepemimpinan Perempuan di PKS. Ketokohan perempuan baik di Majelis Syura, di struktur partai maupun dengan menjadi pejabat publik akan menghapus tuduhan bahwa PKS adalah Taliban atau fundamentalis berbaju politisi. Penokohan kader perempuan menimbulkan simpati pemilih perempuan yang akhirnya menyebabkan elektabilitas PKS meningkat melalui interaksi langsung terhadap masyarakat dalam layanan-layanan sosial seperti baksos, khitanan masal, layanan kesehatan gratis dan dengan menjadi pengurus posyandu.
6. Pengaruh Faktor Strategi Pemenangan Pemilu
Garis-garis besar strategi perjuangan politik PKS adalah menekankan pada strategi perencanaan dan penghimpunan serta pemanfaatan potensi. Perhimpunan dan pemanfaatan potensi nampak pada dalam strategi pemenangan pemilu PKS yang utama yakni permanent campaign dalam bentuk vernacular politics berupa kerjasama jejaring masyarakat dengan partai politik dan lembaga-lembaga civil society serta pemerintah lokal dalam sebuah gerakan sosial politik. Salah satu ciri permanent campaign lainnya adalah strategi direct selling door to door dan juga kunjungan ke tokoh-tokoh masyarakat. Hal tsb telah dimulai sejak pemilu 1999.
Sinergi segitiga antara pemerintah lokal (kota atau kabupaten) dengan partai politik dan LSM-LSM yang merupakan ciri strategi vernacular politics belum diterapkan dengan baik oleh PKS karena terkendala berbagai hal diantaranya keterbatasan logistik sementara jumlah rakyat yang membutuhkan jauh lebih banyak, masih adanya keengganan-kegamangan beberapa kader yang menjadi kepada daerah untuk memberikan akses bagi para kadernya, dan para kader PKS yang ada di LSM sosial berusaha mengedepankan indepensinya/ kurang memberikan alokasi bantuan kepada para kader dan simpatisan PKS. Oleh karena itu sebenarnya irisan kerjasama antara LSM dan partai politik saling menguntungkan karena di salah satu sisi partai politik menyuplai SDM berkualitas untuk menjadi pegiat sosial atau bahkan menyuplai juga stakeholder berupa para donatur dari kader dan simpatisan partai. Sebaliknya di sisi lain manuver LSM akan sangat membantu partai politik karena banyak arena yang tidak bisa disentuh dengan partai namun bisa melalui lembaga charity yang dianggap cukup independen.
Selanjutnya terkait strategi pendanaan, partai memberikan database kader dan basis massa lalu LSM-LSM mengalokasikan bantuan dengan prioritas berdasarkan database tsb. Kemudian pemerintah daerah juga memberikan informasi tentang proyek-proyek dan meminta agar para kader pengusaha mengikuti proses tender namun jika memenuhi syarat akan lebih diutamakan untuk mendapatkan proyek tsb dengan asumsi keuntungan tsb akan digunakan untuk menggerakkan roda organisasi partai. Di PKS strategi tsb masih jauh dari optimal dalam aplikasinya.
Strategi berikutnya yang digunakan PKS adalah berusaha menyakinkan kubu nasionalis yang direpresentasikan oleh partai-partai nasionalis dan juga birokrasi serta militer bahwa PKS tidak memiliki hidden agenda. Kedekatan PKS dengan kubu nasionalis dan militer diawali oleh Ustadz Hilmi Aminuddin yang bertemu dengan para jenderal dan pensiunan jenderal untuk menyakinkan militer bahwa PKS menerima UUD’45 dan Pancasila serta tidak berbahaya bagi NKRI.
Lalu strategi pemilihan isuutama. PK di Pemilu 1999 belum berhasil meraih banyak suara selain merupakan partai baru juga karena tidak membawa tema atau isu baru yang bisa mengesankan masyarakat. Namun pada pemilu 2004 melalui isu pemberantasan korupsi dan kepedulian pada rakyat dengan jargon Bersih dan Peduli berhasil meningkatkan suara PKS lebih dari 600%. Sayangnya di pemilu 2009 tema berupa tambahan kata profesional di belakang bersih dan peduli menjadi tidak menguntungkan bagi PKS karena beberapa kepala daerah yang berasal dari kader PKS atau diusung oleh PKS masih jauh dari citra tsb.
Selanjutnya strategi media, hubungan PKS dengan media massa mengalami masa pasang surut sehingga setelah 2005 hingga saat ini, PKS menilai media tidak bersikap fair pada PKS. Sementara kader-kader PKS belum memiliki kesadaran yang cukup tentang tidak bersahabatnya media massa dengan PKS, sehingga belum sigap berdalih pada strategi media lain yang efektif misalnya mendirikan pusat-pusat informasi dengan akses yang luas kepada masyarakat.
Kemudian strategi penguasaan teritorial yang dilakukan dengan cara mendirikan sebanyak mungkin posko/outlet dan melakukan canvassing/direct selling seinsentif mungkin. Untuk menguatkan penetrasi tsb PKS memiliki Pos WK (Pos Wanita Keadilan) di berbagai wilayah di seluruh tanah air yang juga berfungsi sebagai rumah inspirasi dan menjadi pusat kegiatan para wanita. Namun irosnisnya PKS belum serius menggarap isu perempuan sehingga PKS dikesankan masih setengah hati dalam memberikan peran politik pada perempuan sehingga dapat menjatuhkan citra partai bahwa PKS lips service dalam hal pemuliaan perempuan. Dari 57 kursi di 2009 ini misalnya hanya 3 kursi buat perempuan PKS maka berarti telah terjadi penurunan drastis dari prosentasi di 2004 yang masih minim (3 dari 45 aleg pusat). Walaupun semua strategi telah digunakan di tahun 1999 dan 2004 kembali dilakukan di 2009, beberapa strategi pendanaan dan strategi media tetap masih kurang dioptimalkan. Ketiadaan inovasi dalam strategi yang digunakan membuat faktor strategi justru menjadi salah satu kelemahan PKS di pemilu 2009.

B. Aspek-Aspek Pemenangan Pemilu AKP di Turki
1. Pengaruh Faktor Ideologi Pos-Islamis
Hampir semua pendiri, pengurus, dan kader AKP selalu menghindar dan bahkan mengatakan AKP tidak terlalu mementingkan persoalan ideologi. Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa AKP adalah partai konservatif demokrat, sehingga AKP memiliki pandangan yang lebih rasional, empiris dan bahkan pragmatis terkait konsep membangun Turki. Walaupun menyebut partainya bukan partai Islam, para pemimpin AKP tidak pernah menyembunyikan ketaatannya sebagai Muslim.
AKP menarik pelajaran dari partai-partai sebelumnya yang berhaluan Islam seperti Milli Slamet Partisi (MSP), Refah Partisi (RP) dan Fazilet Partisi (FP) yang dibekukan Mahkamah Konstitusi karena menonjolkan aspek ideologisnya. Disisi lain para pemimpin AKP juga belajar dari pengalaman kegagalan pemerintahan Cumhuriyet Halk Partisi (CHP) atau Partai Rakyat Republik yang selalu mempertahankan ideologi nasionalisme-sekulerisme tapi korup dan tidak mampu memperbaiki kondisi ekonomi Turki. AKP mampu menerjemahkan ideologi dalam bentuk good governance dan clean goverment yang mengupayakan kesejahteraan untuk rakyat dan slogan AKP, Hersey Turkey Icin (Everyting is for Turkey) membawanya pada keberhasilan di dua pemilu (2002 dan 2007).
AKP memang berasal dari kelompok Islamis Milli Gorus, namun ketika FP pecah maka faksi islamis militan membentuk SP atas arahan Erbakan sementara faksi islamis moderat dipimpin Erdogan mendirikan AKP masing-masing ditahun 2001. Menariknya fakta bahwa sebgaian besar pemilih AKP adalah justru massa mengambang (floating voters), sementara pemilih AKP yang tipikal garis Milli Gorus hanya berjumlah 15%. Namun kelompok pemilih ideologis yang setia inilah yang berhubungan dan menarik pemilih yang berjumlah 40% dari total pemilih.
AKP disebut sebagai salah satu kelompok Islamis yang telah mentransformasi dirinya menjadi kelompok Pos-Islamis. Aplikasi ideologis Islam AKP berupa keadilan dan pembangunan yang menyejahterakan rakyat Turki sebagaimana disebutkan PM Erdogan bahwa melayani rakyat berarti melayani Tuhan terbukti menyebabkan AKP menjadi partai pemenang pemilu di tahun 2002 dan 2007. Ciri pos-islamis yang mencita-citakan masyarakt yang diilhami nilai-nilai Islam dan bukannya memaksakan berdirinya Islamic State juga yang menjadi penyebab keberhasilan AKP dalam pemilu sejak berdirinya.
2. Pengaruh Faktor Organisasi
Faktor yang berpengaruh pada kemenangan AKP di pemilu 2002 dan 2007 adalah organisasinya yang kokoh dan tertata dengan baik. Kelebihan AKP dari segi organisasi adalah karena memiliki 2 organisasi sayap yakni Woman Branch dan Youth Branch yang independen sehingga optimal berfungsi dan bahkan menjadi kunci kemenangan AKP. Organisasi “branch” yang bersifat otonom atau desentralistik dan disebut juga sebagai partai massa yang menjadikan rekrutmen atau penambahan jumlah keanggotaan dalam partai sebagai kegiatan utama yang bersifat sukarela dan tidak eksklusif. Kelebihan AKP lainnya di bidang organisasi adalah 3 lembaga profesional yang dimilikinya yakni lembaga Humas yang melayani konstituen AKP 24 jam non-stop, lembaga profesional untuk mengadvokasi kaum difabel Ozurluler Kordinasyon Merkezi (OKM) dan lembaga yang mengurusi para lansia yang berusia 65 tahun ke atas yakni Yashlilar Kordinasyon Merkezi (YKM).
Faktor organisasi AKP yang kuat dan lengkap serta terorganisir turut menjadi penyebab kemenangan AKP dalam setiap pemilu di Turki sejak 2002. Soliditas dan kerapian organisasi di FP diwarisi oleh AKP karena para pendiri AKP sebelumnya adalah para kader aktifis di Milli Gorus dan partai politik yang dilahirkannya yakni MSP, RP, dan FP. Bedanya AKP membesar dan mengubah bentuk organisasi cell FP menjadi model branch yakni dengan memberi keleluasan dan otonomi serta indenpendensi pada struktur organisasi namun tetap terkoordinasi dengan Ketua Umum partai.
3. Pengaruh Faktor Basis Massa
AKP memiliki basis massa utama dari kalangan menengah yang terus bertambah seiring dg membaiknya perekonomian dan meningkatnya taraf pendidikan sejak awal 1970-an. Namun demikian AKP juga memiliki basis massa yang beragam, tak terkecuali dari kalangan kelas bwah dan juga terdiri dari beragam profesi mulai dari intelektual muslim, pengusaha, guru, polisi, penjaga toko, dan mampu meraih dukungan dari jaringan lembaga-lembaga Islam, tarekat-tarekat Islam hingga ormas. Selain memiliki basis massa dari kalanga relijius AKP juga mendapat dukungan dari basis massa nasionalis-sekuler yang sebelumnya adalah konstituen CHP dan MHP.
Keberhasilan AKP memperbaiki perekonomian menyebabkan mereka mendapatkan dukungan dari basis massa tsb. Luasnya dukungan basis massa yang dimiliki oleh AKP berpengaruh signifikan pada pemenangan pemilu AKP. Kemampuan AKP memperluas basis massa membuatnya memperoleh dukungan suara dari kelas bawah di perkotaan dan di pedesaan serta dari kantong-kantong Muslim sekuler di Izmir dan Ankara selain Istanbul yang memang merupakan basis utama AKP. Aspek keberagaman basis massa yang lintas kelas dan ideologi juga turut memastikan keunggulan AKP di pemilu 2002 dan 2007.
4. Pengaruh Faktor Sistem Rekrutmen
AKP memberikan peluang yang sangat luas bagi setiap warga negra Turki untuk bergabung baik sebagai supporter, member dan activist. Selain itu para politisi juga langsung mendekati konstituen atau calon pemilih dengan mendatangi rumah-rumah, desa-desa, dan warung-warung kopi di Turki karena interaksi face to face sangat efektif untuk menyampaikan pesan-pesan.
Prioritas rekrutmen dalam jumlah besar mereka tujukan pada kategori kelompok relawan yang menghimpun berbagai jenis manusia mulai dari orang bertato hingga perempuan berpakaian minim yang kesemuanya pro AKP dan dilibatkan di kegiatan-kegiatan yang bersifat charity, kegiatan sosial, seni dan budaya serta politik. Kemudian mereka menetapkan pola rekrutmen berbeda untuk anggota dan pengurus inti karena para kader ideologisnya memiliki visi dan misi yang jelas. Dari segi rekrutmen AKP lebih terbuka daripada SP. Sementara terkait perekrutan untuk pejabat publik seperti walikota masalah kompetensi menjadi pertimbangan utama, sehingga bila di dalam AKP tidak ditemukan kader yang memiliki kapasitas tersebut maka AKP bersedia bekerja sama dengan merekrut orang diluar AKP yang memenuhi kriteria untuk dicalonkan.
Kelebihan yang dimiliki para pemuda Youth Branch adalah keleluasaan bertemu dan berdialog dengan para seniornya di AKP karena tidak ada “gap”. Selain itu AKP sangat menghargai peran politik perempuan dan memiliki banyak anggota perempuan. Istanbul diantara 81 provinsi di Turki merupakan provinsi yang memiliki jumlah anggota terbanyak yakni 1.288.262 dan dari jumlah tersebut 549.392 diantaranya adalah perempuan. Jenis rekrutmen “hybrid” AKP memungkinkan terjadinya rekrutmen masif relawan dan anggota sehingga kini telah berjumlah 5 juta orang dari 74 juta penduduk Turki.
5. Pengaruh Faktor Kepemimpinan
Faktor kepemimpinan adalah faktor terpenting bagi pemenangan Pemilu AKP setelah faktor ideologi pos-Islaminya yang sangat toleran dan terbuka. Kepemimpinan Erdogan merupakan gabungan dari ketiga jenis kepemimpinan kharismatis, tradisional, dan legal formal karena konservatisme Erdogan dan kemampuannya memperbaiki perekonomian serra kesejahteraaan rakuat Turki. Erdogan merupakan pemimpin kharismatis yang diyakini pengikutnya sebgai anugerah Allah bahwa ia memiliki keunggulan karakter pribadi. Disamping itu Erdogan menunjukkan sebagai pemimpin yang berasal dari kelompok Islamis Milli Gorus, diterima secara luas oleh masyarakat Turki yang terpelihara semangat dan tradisi islamnya walaupun negaranya sekuler. Selanjutnya Erdogan adalah pemimpin berotoritas legal formal karena partainya memenangkan secara berturut-turut dua kali pemilu 2002 dan 2007.
Kesemua rekam jejak keberhasilan Erdogan membuatnya menjadi pemimpin Turki yang layak dipercaya karena bila seseorang bisa menguasai Istanbul maka diyakini ia akan bisa menguasai Turki. PBB memberikan UN Habitat Award kepada Erdogan yang merupakan penghargaan untuk kota ramah lingkungan dan minim polusi. Erdogan juga berani menggunakan strategi politik yang berbeda, termasuk memeberikan kesempatan bagi perempuan untuk terlibat dalam politik baik sebgai anggota, pengurus maupun calon anggota legislatif padahal saat itu tidak lazim di Turki untuk melibatkan perempuan dalam kehidupan dan struktur politik terlebih bagi orang-orang konservatif.
Hal luar biasa lainnya adalah proses regenerasi kepemimpinan juga berjalan dengan baik di AKP. Generasi muda di AKP umumnya memiliki keberanian dan kepercayaan diri untuk menjadi pemimpin dan mendapatkan praktek langsung di lapangan atau di masyarakat dengan adanya otoritas dan keleluasaan berkiprah di badan yang relatif otonom yakni Youth Branch. Erdogan sebagai sosok kharismatis yang decisive, tegas dalam mengambil keputusan, berani mengambil keputusan dan dicintai oleh rakyat karena bersikap jujur apa adanya serta tidak memikirkan pencitraan yang membuatnya tidak saja menjadi tokoh AKP melainkan juga bagi Turki, bahkan meluas ke dunia Islam. Erdogan bahkan disebut sebagai pemimpin kuat Turki dari kalangan Islamis yang sama terkenalnya dengan pemimpin Turki sekluer Kemal Pasha yang merupakan pendiri Republik Turki.
6. Pengaruh Faktor Strategi Pemenangan Pemilu
AKP menerapkan strategi permanent campaign melalui vernacular poliitcatau politik kedaerahan yang merupakan upaya mensinergikan potensi yang dimiliki oleh partai politik dengan jejaring sosialnya, LSM-LSM dan pemerintah lokal. Sebagai partai politik yang berasal dari gerakan Islam Milli Gorus, AKP memiliki kekuatan basis massa karena aktifitas dakwah dan sosial yang telah dijalaninnya selama puluhan tahun. Salah satu strategi AKP adalah melakukan kunjungan door to door untuk menjelaskan program-program partai dan pemerintah. Para anggota AKP mengunjungi langsung rumah-rumah konstituen lokal untuk menanyakan permasalahan yang dihadapi dan berusaha membantu mencarikan solusinya. Selain itu AKP memiliki strategi pemilihan isu utama dengan merangkul kubu sekuler dan militer demi stabilitas politik serta strategi mengajukan kembali proposal Turki sebagai anggota Uni Eropa.
Kemudian strategi yang tidak kalah pentingnya adalah strategi pendanaan, strategi media yang menjual reputasi dan mimpi AKP serta strategi teritorial. Interaksi intensif para kader AKP yang menjadi relawan dengan struktur partai menunjukkan bahwa AKP menggunakan strategi vernacular politics sebagai upaya mengoptimalkan potensi yang ada di partai, LSM dan kader partai yang menjadi pejabat pemerintah daerah. Seperti misalnya hubungan antara AKP dnegan IHH (Insan Hak ve Hurriyetletri Insani Yardim Vakfi/The Foundation for Human Rights and Freedom and Humanitarian Relief) atau dengan asosiasi-asosiasi LSM seperti UNIW (United Non-goverment os Islamic World) yang beranggotakan 189 LSM dari 82 negara (Asia, Afrika dan Eropa) dengan 79 LSM diantaranya Turki.
Strategi pemilihan isu sesuai dengan namanya AKP : Partai Keadilan dan Pembangunan maka isu penting yang dikampanyekan adalah perbaikan ekonomi. Berkat kebijakan AKP yang mementingkan pembangunan ekonomi, maka perlaku bisnis yang biasanya memilih partai sekuler CHP karena faktor ideologisnya, manyatakan bahwa kini sangat mendukung dan menghargai pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintahan AKP.
Strategi berikutnya adalah pendanaan yang tepat. Pendanaan di AKP termasuk dana kampanye didapatkan melalui : Pertama, bantuan pemerintah bagi partai-partai politik yang melewati batas parliamentary threshold : 10%. Kedua, dana pribadi para kandidat untuk membiayai sendiri kampanye sebagai caleg atau calon walikota dan bagi yang tidak bisa memenuhi semua biaya kampanyenya akan dibantu partai. Ketiga, donasi dari luar seperti dari para pengusaha atau lembaga-lembaga yang mendukung AKP. Kemudian melalui strategi media, AKP juga menjual mimpi bagaimana merealisasikan cita-cita untuk menjadikan Turki sebagai bangsa besar di 2023 yakni pada saat Republik Turki berusia 100 tahun.
Selain itu, Erdogan ditampilkan sebagai figur utama yang menyampaikan pesan partai sehingga beliau ada disemua campaign kit dalam bentuk yang sangat variatif dan menarik. Strategi branding AKP adalah menggunakan beberapa media utama seperti : iklan di tv, direct selling, billboard, dan banner. Pertarungan branding strategy terutama nampak diantara AKP dan CHP terbukti keberhasilannya karena kedua partai tsb mengalami peningkatan perolehan suara yakni AKP meningkat dari 47% (2007) menjadi 49.9% (2011) dan CHP meningkat dari 20.9% (2007) menjadi 25.9% (2011). Strategi teritorial dilakukan AKP dengan cara mendirikan sebanyak mungkin posko dan melakukan canvassing seintensif mungkin. Erdogan juga berkunjung ke masyarakat di berbagi distrik di Turki. AKP menyediakan 100 mobil karavan beserta kursi, meja dan brosur untuk melakukan kampanye tatap muka dengan calon pemilih dan melayani pendaftaran anggota baru AKP dengan proses yang mudah.
C. Sebuah Perbandingan Faktor Pemenangan Pemilu PKS di Indonesia dan AKP di Turki
1. Perbandingan Aspek Internal


  • Kiri
  • Pusat
  • Kanan
Hapus
klik untuk menambahkan keterangan

2. Perbandingan Aspek Eksternal


  • Kiri
  • Pusat
  • Kanan
Hapus
klik untuk menambahkan keterangan

3. Komparasi antara Neo-Fundamentalisme, Islamisme dan Pos-Islamisme



  • Kiri
  • Pusat
  • Kanan
Hapus
klik untuk menambahkan keterangan

Sumber :
Soekanto, Sitaresmi S. 2016. Strategi Pemenangan Pemilu AKP di Turki dan PKS di Indonesia : Studi Perbandingan. Jakarta: UI-Press.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mewujudkan Keluarga Qur'ani