Yakin Tanpa Tapi, Kekuatan Teruji dalam Tiap Kondisi (Edisi Jomblo Yes, Baper No)



Menghitung bulan kian berakhir, mengalir cepat. Yup seakan tahun baru masehi sudah di depan mata. Langit kian terasa semakin gelap disertai guntur dan halilintar, seru gemuruh. Tapi tahu enggak, itu belum seberapa dibanding kegemuruhan di hati ini. Ciee.. Kian sesak tatkala menyadari keberadaannya awkward ditengah kelumrahan, seolah kandungan oksigennya menipis. Sehoror Valak. Cuma bedanya Valak asik dengan tingkahnya sedang kita ngenes ngurut dada berkaca. Inilah bayangan hati kaum Jomblo.. Hehe.. Iya percaya, ga semua gini kok. Intermezzo ^_^

Apa salahnya jadi Jomblo..? Ini status keramat lho. Ga sembarang orang bisa mendapatkan apalagi mempertahankannya. Bukan bangga-banggaan, juga bukan celaan. It is just matter of heart and time. Jadi kudu gimana dun, kelanjur baper nih.. Hiks..

Ok bud, pertama yang kita kuasai dalam perkara ini adalah Ketauhidan lalu Manner. Ada banyak nasihat para Ulama dalam hal ketauhidan yang dikaitkan dalam soal jodoh. Oya penting bagi kita untuk selalu mendekatkan diri kepada para Ulama baik secara factual dan virtual, karena al imanu yazidu wa yanqush (iman naik & turun) maka para Ulama & orang-orang shalih sebagai buffer, guna menyanggah kondisi nih hati supaya ga ngenes-ngenes banget. Yuppe, saat galau kita bisa ngeles bahwa rasa ini adalah fitrah tapi bisa ga masuk akal bila kejadiannya jadi ekstrem apalagi sampai bikin turun harga. Maka perlu ya kita PDKT ke orang-orang shalih. Jomblo boleh, baper kelamaan jangan.

Ada banyak alasan orang menjadi jomblo, semata bukan karena ga ada yang ngelirik (hiks.. tega kali kau buka kartu) tapi ada jua yang karena merasa belum menemukan yang "klik" dihati, atau pula karena fokus ke bidang tertentu sehingga belum menghajatkan untuk menggenapkan tulang rusuk. Apapun alasannya, kita tidak patut menghujat maupun mencelanya.. Hakikatnya ini adalah sisi misteri hidup kita. Tidak ada yang bisa menjamin seperti apa masa depan kita, bagaimana keberlangsungannya dan ending atas segala itu. Hanya Allah SWT yang punya kuasa tersebut. Maka di lapangan kita bisa menemukan kasus perceraian anak Adam yang dahulunya memadu kasih secara apik, sebuah pernikahan yang dahulu paradigmanya mustahil terjadi, berjodohnya dua hati dari dua benua tanpa keakraban sebelumnya, ataupun batalnya rencana pernikahan dari dua sejoli yang telah memadu kasih belasan tahun.

Sebab ini bagian misteri kehidupan maka hadapi juga dengan metodologi keghaiban. Do not panic, please. Yang perlu kita usahakan adalah Kesakinahan Hati, bagaimana caranya agar tetap tenang. Panas diluar sila, tapi tetap cool di dalam. Letakkan Keyakinan (Trust) kepada Allah tanpa intervensi. Bagaimanapun judulnya, harus yakin kepada Allah. Karena hanya Allah yang menguasai segala sesuatu. 

Yakin Tanpa Tapi
Kesuksesan relationship dengan segala jenisnya ditentukan seberapa dalam trust dibangun. Rasa percaya kepada siapa yang dihubungkan. Tidak peduli seberapa jauh jarak terbentang, seberapa besar perbedaan muncul di permukaan, ketika trust diletakkan maka telah cukup sebagai jembatan menyambung segala itu. Kekuatan pondasi jembatan tergantung seberapa kuat kita menyakininya. Dalam perkara ini, kita hanya perlu meletakkan yakin tanpa tapi kepada The Almighty Allah 'Azza wa Jalla. 

Tiada yang lebih mengenali diri kita selain Allah, tiada yang mengerti maksud & gejolak hati kita selain Allah, tiada yang mengusai hati setiap mahluk selain Allah, tiada yang menguasai waktu selain Allah, tiada yang menguasai keadaan selain Allah. Segala yang terjadi diatas muka bumi dalam perhitungan & penjagaanNya. Bahkan untuk kehidupan setelah matipun Allah yang mendesainnya. Maka adakah yang layak dijadikan sandaran segala harap & tujuan segala pinta selain kepada Allah Ta'ala..?

Ingat ya, kita lahir dengan desainan Allah dan itu sempurna. Fisik & non fisik yang dikaruniakan telah ditetapkan sedemikian rupa, sempurna. Tidak ada yang perlu dikeluhkan, bahkan -maaf- kepada saudara kita yang terlahir cacatpun sejatinya ia juga diciptakan Allah dengan desain yang sempurna. Kita ini hanya ciptaan yang diberi kesempatan untuk melakoni peran dariNya diatas pentas dunia. Ga lebih. Jadi ga perlu kita merasa minder atau ujub (belagu) dengan karuniaNya, semua sudah sempurna.

Termasuk masa-masa kritis seperti ini, tenang.. Semua sudah dalam desain & perhitungan Allah. Bisa jadi memang kita perlu melalui proses ini sebagai bentuk konversi atas dosa/kesalahan kita di masa lalu tho kita ini banyak sekali berbuat salah.. Hiks.. Hanya karena Allah saja yang menutupinya sehingga tiada nampak di permukaan mahluk. Dan/Atau bisa jadi juga justru letak keberkahannya itu disini, dalam ujian ini. Boleh direnungkan sejenak, kita hari ini dengan kita 2-3 tahun belakang. Apa saja yang tlah berubah..? Apa saja yang tlah bertumbuhkembang..? Kematangan jiwa, pola pikir, sikap, karir, harta, pergaulan, amanah, dst mesti ada yang berubah. Bisa jadi apa yang terjadi adalah buah dari doa kita sendiri. Kita menginginkan keterbaikan, tentu diperlukan asbabnya. Sunnatullah.. Layaknya hajat pergi ke Baitullah, ada mukadimah sebelumnya, ga langsung cling udah belarian di Safa-Marwa. Jin yang memindahkan istana Ratu Bilqis aja ada waktu & usaha meski hanya berjeda kedipan mata. Artinya maa khalaqTa haadzaa baathilaa, semua yang Allah ciptakan tidaklah kebetulan (sia-sia).

Qanaah
Diantara pilihan sikap yang paling menenangkan jiwa adalah qanaah. Merasa cukup (bahagia) atas pemberian Allah. Menerima takdir (baik/buruk) dengan kacamata positif. Tidak bisa dikatakan qanaah bila kita mengaku menjalani takdir dengan keluhan apatah lagi su'uzhan kepada Allah. "Saya mah yakin dan ridha kok tapi.." tettt.. itu masih negatif, belum qanaah atuh ce. 

Sikap kita lahir dari apa yang kita yakini. Yakin kata lainnya adalah iman. Iman tidak sekedar apa yang terucap tapi juga apa yang terhujam di hati dan terjewantahkan dalam amal. Maka untuk menghasilkan out put sikap yang baik, input-nya harus baik pula. Alhamdulillah, kita bisa melakukan manipulasi input dengan melakukan latihan. Seberapa sering & berkesinambungan latihan itu dilakukan maka akan sekuat itu pula bentuk yang dihasilkan. Bila kita mengingingkan perut six pack maka latihan tidak bisa hanya dilakukan sekali-dua. Demikian pula reaksi kita dalam menyikapi segala sesuatu tergantung dari persepsi yang kita miliki. Persepsi lahir dari indera yang menerima ilmu tsb yakni mata & telinga, lalu lisan sebagai tool untuk melakukan pengulangan, menguatkan ikatan.

Mata & telinga adalah jendela hati. Kesejukkan hati bisa diukur dari di sisi mana jendela itu fokus & rutin terbuka. Alhamdulillah, kabar baiknya kita dikarunia kuasa untuk mengatur jendela ini. Kita diberikan pilihan untuk mengoptimalkan fujur (durhaka, jahat) atau ketaqwaan. Dan tabiatnya taqwa mengajak pada kebaikan. Kebaikan menjadikan segala sesuatunya tampak indah..

Hukum Ketertarikan
Ada teori yang mengatakan bahwa apa yang kita berikan kepada alam semesta ini akan kita terima (Law of Attraction). Jika kita menebarkan energi positif maka kita akan menerima energi positif juga, dipertemukan dengan orang-orang postif, kerjaan positif, suasana positif. Begitu juga sebaliknya. Dalam agama kita mengenal ini dengan kaidah Firman Allah dalam surat Al Zalzalah ayat 7-8 : 
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Maka perkara yang patut kita perhatikan adalah diri kita sendiri. Apa yang kita harapkan dari luar dimulai dari apa yang terjadi dari dalam. 
So, Train your mind to see the good in every situation. ^_^

*Allahu a'lam bi shawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mewujudkan Keluarga Qur'ani

Faghfirli Yaa Rabb