Cerpen : Siti Faisal



"Alhamdulillah...", Lirihku pada embun pagi ini.. Aku tersenyum kecil mentafakuri skenario Ilahi. Sungguh indah, sungguh...

Bagaimana tidak, kebahagiaan itu sungguh terjadi. Ya, padaku.. Sebutir bening menetes dari sudut mataku. Betapa malunya Aku, yg hampir jatuh pada su’uzhan tiap kali mengingat kejadian demi kejadian yg lalu.. Meski lisan kututup rapat, tapi Aku tak kuasa menahan luapan airmata dan sedihnya hatiku.. Hanya kerana karunia & rahmat Nya saja, akhirnya Aku bisa melalui semua peristiwa itu dan duduk disini..

 Menunduk hikmad, mendengarkan akad yg diucapkan ayah kepada calon suamiku. "Sah.. Alhamdulillah..", secara kompak deru sanak family dan para sahabat yg menyaksikan Akad nikah kami pagi ini.

Aku sangat bahagia.. Hingga tak kuasa menahan tangis dan tawa sambil memeluk ibu yg berada lekat disampingku.. Ibu balik memeluk dan menciumku bersama basahnya airmata haru.


Tak hentinya lisan kami mengucapkan rasa syukur kepada Kemurahan Allah.

Dalam langkah menuju altar Akad, kulirik laki-laki yg kini menjadi suamiku. "Yaa Rabb.. Dialah orangnya..",kataku membatin. Pandangan kami bertemu, Aku malu.. Secara refleks kami tersenyum dan menundukkan pandangan.. Semua hadiri tersenyum bahagia. Tentu termasuk kami berdua.

Shalawatpun dilafalkan. Secara beriringan kami menyalami semua hadirin di pagi ini. Diselingi airmata bahagia dan colekan centil dari para sahabat, kami saling mendoakan.. "Barakallahulaka wa baraka ’alaika wa jama’a bainakuma fii khair ya Ti.." peluk sahabatku dalam doa dan dekapannya.
"Aamiin.. Wa fiik barakallah. Semoga dirimu jg disegerakan ya ukht.." pelukku dg doa dan dekapan yg sama.

Ada juga yg menyeletuk, "Barakallah ya Ti.. Akhirnya pecah telor juga. haha.." girang sahabatku sambil mengendong bayi mungilnya. Aku cuma tertawa sambil menggangguk.. Alhamdulillah.. wa Syukurilah..

 Maka nikmat Tuhanmu yg manakah yg kau dustakan..?


°°°°°°°°°°°



🌸Enam Tahun Lalu 🌸

 "Siti.. Udah siap nikah..?" sapa Ummi lembut mengagetkan kekhusyukanku memyeduh teh. "Eh, apa Mi.. Gimana maksudnya? Hehe.." jawabku canggung.

"Iya, Siti udah siap nikah belum..? Bentar lagi kan mo wisuda. Tahap pasca kampus ya.. Kalau udah siap, bikin proposalnya ya Ti. Tinggal Siti lagi lho yg belum masukin proposal, Ummi tunggu pekan depan ya. Siapa tahu ketemu jodohnya disini. Hehe.." jelas Ummi santai sambil berlalu kembali ke ruang tamu dimana teman-teman pengajian mulai berdatangan.

"Oiya Mi.." jawabku lirih sembari membawa nampan teh.

 (1bulan kemudian)
"Siti, sengaja Ummi menahan Siti agar ga pulang dulu. Ini ada proposal, silahkan Siti pelajari terlebih dahulu,pekan depan berikan jawabannya ya.." Ujar Ummi sambil menyerahkan sebuah amplop besar padaku.

 "Hmm..’Afwan Mi. Siti senang bahkan juga berharap bisa lebih lama di Depok tapi Mamak Siti di Medan minta Siti segera kembali pulang, kerja disana Mi.. Siti udah berusaha lobi Mamak. Tapi Mamak masih bersikukuh agar Siti pulang.." jelasku penuh kesedihan karena Aku juga sebetulnya ingin tinggal di Depok. Suasana Depok sudah sangat kujiwai daripada tanah kelahiranku sendiri, Binjai Medan.

"Oh begitu.. La ba’sa (Tak mengapa) Ti. Birrul Walidain (Berbakti kpd Orangtua) lebih utama.. Insya Allah itu yg terbaik." tenang Ummi memelukku erat.

Seminggu setelah wisuda, Aku langsung pulang ke Medan. Demi Mamak dan Papa..
***


🌸Empat Tahun Lalu🌸

"Siti...! Kau ingat ikhwan (sebutan kpd laki-laki yg ikut pengajian) yg duduk di seberang kau pas walimahan Okta kemarin?" tanya sahabatku Mina secara mendadak penuh semangat.

"Apa pulak kau Min, tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba badai menanyaiku. Siapa yg kau maksud..?" jawabku heran.

"Ah kau ini, tapi kau tahu kan maksudku. Ikhwan itu Ti, dia punya itikad baik pada kau. Dia ikhwan Aceh, hendak niat mau mengajukan proses pada kau Ti. Mana kontak Murabbiyah (Pembina/ustadzah pengajian) kau..?" jelas Mina penuh menggebu.

"Ikhwan yg pakai batik orange itu maksud kau, Min..?" tanyaku kepo.

"Yang mana lagi Ti.. Cuma dia ikhwan asing disitu, selebihnya kan sepupu kau saja. Kau ini.." jawab Mina sekenanya.

 "Bah, jangan dialah Min. Tega kali kau.. Tak suka Aku padanya Min. Berapa kali kutangkap matanya melototiku.  mana ada ikhwan begitu.." gerutuku kesal.

 "Kau ini Siti, asal kau tahu ya ikhwan saat ini seperti barang langka. Bersyukur lah kau ada saja ikhwan yg jatuh hati menengokmu.. Lagi pula, normal-normal saja dia mencuri pandang pada kau Siti. Itu pertanda dia laki-laki.. Macam mana kau ini," kilah Mina.

"Bah.. Panjang kali kau membela dia Min. Nantilah. Aku pikir-pikir dulu.."akhirku diujung telepon agak ketus.

Dari situ, pikir-pikirku tadi tak juga memberikan jawaban kepada Mina. Akhirnya Mina menghentikan usahanya. Aku meminta maaf pada sahabatku tak bermaksud mengcewakannya.. tapi Aku juga tak bisa menyembunyikan kesan terhadap ikhwan tsb.
***


🌸Tiga Tahun Lalu🌸
bip..bip.. Sebuah BBM masuk. Dari bang Akmal -senior dalam organisasi keIslaman yg kugeluti-, "Assalamu’alaikum Ti.. ’afwan ganggu. Ana (saya) to the point saja ya. Sewaktu Siti di masjid tadi, ada teman sekantor Ana yg memperhatikan dan menyatakan ingin serius berproses sm Anti (kamu, perempuan). Mungkin Anti tadi melihatnya, dia tadi memakai kemeja panjang biru yg digulung hingga ke pergelangannya, yg berdiri di gerbang masjid. Namanya Subroto. Dia udah lama melihat Siti suka di masjid Baiturrahman. Gimana jadinya Ti..?"

 "Siti belum punya jawaban Bang. Ini juga agak shock.." send, kubalas singkat BBMnya.

"Baiklah kalo gitu, Siti diskusikan dulu aja sm Murabbiyah Anti ya nanti kabari Ana.. Syukran (trims)" balas bang Akmal. "insya Allah bang." jawabku.

Tak selang berapa lama, Aku menghubungi Murabbiyah utk menyampaikan ikhwal yg terjadi.

Murabbiyah menyerahkan sepenuhnya kepadaku. Sebelum memberikan jawaban, Aku diminta tenang dan istikharah terlebih dahulu.

(Seminggu kemudian)
"Assalamu’alaikum.. ’afwan gimana Ti..? Temen Ana lumayan menanyakan terus nih. he" BBM dari bang Akmal.

 "wa’alaikumsalam wrwb. iya Bang, sila menghub Murabbiyah Siti ya. syukran." balasku.

 "Baiklah, syukran." jawab bang Akmal.

Ya, Aku merasa mantap dan memutuskan bismillah maju. Tlah kuserahkan proposalku pada Murabbiyah, dan proposal ikhwan tsb tengah berada di tasku.

Alhamdulillah proses demi proses dilewati dg baik hingga ke tahap khitbah dan penentuan hari H.

Kami bersepakat akan melangsungkan pernikahan sebulan kemudian. Segala persiapan mulai dilakukan. Pemesanan undangan, pemilihan tema walimatul ursy (resepsi), catering, pemberitahuan kpd sanak family dan tetangga kiri kanan yg jadi tau karena turut menyaksikan khitbah.

Tak terasa 2 pekan berselang. Persiapan sudah 50%. Tiba-tiba sore itu Subroto menghubungiku, meminta bertemu karena ada hal penting yg mau disampaikan.


Pertemuan terjadi di rumah Murabbiyahku. Tanpa dugaan lainnya,kupikir Subroto ingin menambahkan daftar undangan atau meminta bantuanku utk menyiapkan penginapan keluarganya yg akan datang dari jawa.

Ternyata bukan.. Aku sangat terpukul dg apa yg disampaikannya. "Sebelumnya Ana mohon maaf dan meminta kebesaran hati dari ukhti Siti. Ana sudah berusaha semampunya, tapi Ana gagal menyakinkan orangtua. Sebenarnya orangtua Ana, cenderung kurang merestui proses ini karena orangtua menginginkan akhwat dari jawa/keturunan jawa.. Ana sudah mengusahakan semampunya.. Ana juga dua minggu terakhir ini stres mau mengupayakan apa lagi.. Jujur Ana tidak tega utk menghentikan proses ini tetapi orangtua Ana juga tetap tidak merestui.. Ana bingung... Ana mohon kelapangan ukhti Siti.." ungkap Subroto secara halus dg diriingi sesunggukan kecil.

Aku terpana.. Hanya kalimat istirja’ dan airmata yg mengalir deras.
***


🌸Dua Tahun Lalu🌸

"Nak.. Yang lalu biarlah berlalu.. Ertinya Subroto bukanlah jodoh kau. Barangtentu Allah punya maksud lain dibalik semua ni.. Mamak dan Papa sudah bercakap seminggu ini.. Bagaimana kalau kau pigi umrah tuk minta jodoh yg terbaik..? Kabarnya berdoa di depan ka’bah lebih mustajab dan didengar oleh Allah, yuk (ayuk, panggilan kakak perempuan eg mba).. dan Mamak punya simpanan utk kau berangkat umrah.." taujih Mamak dg bijak.

"Bah.. Siti baik-baik aja Mak.. Cuma pusing sikit ngeliat Fahri teriak-teriak minta disuapi." jawabku sekenanya.

 "Ah adik kau tuh memang manja kali lah orangnya. Janganlah kau jadi pusing, yuk.. Siti, kau ini tak pandai berbohong lah apalagi sama Mamak.. Mamak perhatikan, semenjak kejadian itu kau tak lagi ceria seperti biasa. Papa kau pula, Mamak tengok jadi ikutan murung. Alamak.. macam mana ini, pusing palak Mamak.." "Ohya Siti, tetangga kita si Agus. Kemarin ketemu Mamak, dia nanyain kau.." ungkap Mamak sejenak, "Tapi.. Mamak kurang suka dengannya Ti. Keluarganya orang Muhammadiyah, bagaimana kalau Mamak ato Papa kau mati. Bah.. Tak ada yg mau bacakan yasin nanti.. " urai Mamak sembari tiduran disampingku.

"Macam mana Mamak ni, tadi minta Siti dapat jodoh. Ini ada yg PDKT, Mamak pun tak mau.. Makin pusinglah Siti, Mak.. itu orangnya mau Muhammadiyah ato bukan, tak jadi soal lah Mak.. Asalkan dia shalih bs mbimbing Siti ke jalan yg benar.." uraiku sambil menut menahan pusing.

"Nah itu yg Mamak suka dari kau Siti.. Mamak tadi cuma mancing kau aja.. haha.. Sebetulnya ada anak kawan Mamak yg hendak Mamak kenalkan sama kau. Mamaknya pun setuju sm kau Siti. Lusa mereka berkunjung ke rumah kita." ujar Mamak dg riang sambil melangkah keluar. "Hadeuh.. terserah Mamak saja lah. Siti mau tidur.." jawabku sambil memadamkan lampu.

 (Seminggu kemudian)
"Yuk.. Ternyata, anaknya teman Mamak tuh kenal sama ayuk. Dia mundur yuk.. Katanya kau terlalu taat, dia ga sanggup.." colek Mamak padaku.

"Haa..?" Aku cuma melongo sambil mencuci piring yg menumpuk.
***


🌸Setahun Lalu🌸

"Hei Siti.. Kapan kau nikah, ha..? Anakku sudah mo tiga kau belum juga nikah. Macam mana kau ini, sudahlah Siti jangan terlalu banyak pilihan.. haha.." Teriak tetanggaku, Ipon yg kebetulan seumuran padaku. "Haha.. Pilihan macam mana yg kau maksud Pon. Doakan sajalah, biar teman kau ni segera menikah.." timpalku cuek.

bip..bip.. BBM baru diterima. Dari Rijal Sipil 07, mengabari akan diadakan Reuni Jurusan 20 angkatan terakhir. "Bah.. Rajin kali kau Jal, BC agenda utk tahun depan." cengirku sambil menutup hp.
***
🌸Enam Bulan Lalu🌸

 "Mi..Hehe.. Gimana menurut Ummi thd Akhwat yg Mengajukan Diri kpd Ikhwan yg Ia Cenderungi..?" tanyaku pelan diakhir pengajian yg sengaja ku perlambat diri agar bisa mengobrol agak privasi kpd Guru.

"Hmm.. Dalam kacamata Islam, Kemuliaan itu terletak pada ketakwaan. Bila seorang Muslimah utk menjaga kehormatannya lalu ia mengajukan diri kepada Laki-laki shalih, insya Allah itu adalah kemuliaan. Bilamana Laki-laki ini menghendaki maka ia akan menerima dg penuh kerelaan dan bilamana Laki-laki ini tak menghendaki ia tak akan menghinakan. Siti ingat kisah seorang shahabiyah yg mengajukan diri kepada Rasulullah Saw..? Saat itu Rasulullah Saw tidak memiliki kecenderungan thd shahabiyah tadi, Beliau Saw hanya diam. Lalu salah seorang Sahabat yg berada disana mengajukan diri utk menikah Shahabiyah tadi.. Akhirnya mereka menikah. Atau seperti kisah Bunda Khadijah Ra yg memiliki kecenderungan kpd Rasulullah Saw, lalu mengutus orang yg ia percaya untuk mengamati langsung akhlaq Rasulullah Saw dan memfasilitasinya.. Insya Allah, kita tlah memiliki contoh mulia pada kasus seperti itu. Dengan catatan ketika kita ingin mengajukan diri kepada Laki-laki Shalih, bisa secara langsung maupun melalui perantara." jeda Ummi sejenak, "mmh.. Siti, ada yg bisa Ummi bantu..?" tanya Ummi memahami.





"Hehe..Hmm.. Gini Mi.. Hmm.. Ada salah seorang rekan kerja Siti yg membuat Siti terkesan kerana kemuliaan akhlaqnya Mi.. Orangnya hanif Mi, namanya Geri. Teman-teman sekantor memang sering meledeki kami karena hanya kami yg masih single. Dia lebih muda dua tahun dari Siti. Selama bergaul, dia menghormati prinsip Siti utk tidak bersentuhan dg non-mahram. Kami juga sama-sama tidak suka bergabung ke karaoke,setiap kantor mengadakan acara disana kami selalu mengadakan alasan agar tidak hadir Mi.. Untuk shalat, Siti tengok sepintas insya Allah terjaga Mi.. Cuma pernah ga sengaja Siti mendengar sewaktu di masjid, dia masih agak terbata-bata membaca mushaf Alquran.." ujarku pelan sambil menunduk malu.

 "Ada kontaknya Ti..? Nanti Ummi minta tolong sama Abi-nya anak-anak untuk menyelidiki dan memproses lebih lanjut ya.. Mudah-mudahan berakhir baik. aamiin.."tanya Ummi dg senyum khasnya.

 "Oiya ada Mi..hehe.. Siti malu sih Mi.. tapi dalam kebaikan, tidak perlu malu kan Mi..?" tanyaku spontan sambil menunjukan kontak Hp. "Hehe.." Ummi hanya tertawa kecil.

 (Dua minggu kemudian)
Ummi menghubungiku agar silaturahim ke rumahnya dengan maksud menyampaikan info terkait. Dengan deg-degan Aku melaju ke rumah Ummi.

 "Siti.. Abi udah mengobrol sama Geri. Iya seperti Siti cerita ke Ummi, Geri orangnya hanif, ramah dan bersemangat belajar Agama. Insya Allah orangnya bisa diajak berpartner dalam dakwah.. Abi juga udah mencoba menjajaki bagaimana dg statusnya. Abi sampaikan kpd Ummi bahwa alhamdulillah Geri tengah berproses dengan seorang akhwat juga Ti.." Ummi menjeda sesaat, "Insya Allah Siti akan dapat yg terbaik.." teguh Ummi sambil menggenggam tanganku.

"Subhanallah... Alhamdulillah.. Siti ikutan senang Mi mendengarnya. Mudah-mudahan prosesnya Geri berjalan baik. aamiin.. Iya Mi, insya Allah Siti gak apa walaupun ada rasa sedih sikitlah..Hehe.. "jawabku mencoba ceria dengan mata yg mulai berembun..

***

🌸Dua Bulan Lalu🌸

 Mendung siang ini terasa sangat menggigit. Bagaimana tidak, bersamaan dg gelapnya langit gelaplah pula langit hati kami.. Barusan Papa ditelepon kalo anak laki-laki satu-satunya Wak (Abangnya Papa) yg tinggal di Bogor meninggal. Tak lama berselang pun pesan di hape Mamak masuk mengabarkan bahwa Kakak Mamak di Palembang juga meninggal.. Allahu Rabbi.. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun.

Sore itu juga Mamak, Papa dan adik-adik berangkat ke Palembang dan Aku bersiap ke Bogor.
Selama di Bogor, Aku betul-betul tak memperhatikan Hp. Aku sibuk membantu menenangkan Wak yg masih sangat shock sekaligus membantu menghandle tahlilan.

Malam itu, dalam keadaan mengantuk kelelahan Aku membaca banyak sekali panggilan tak terjawab dan pesan yg masuk yg hampir seua dikirim dari Narti, sahabat satu kosan kuliah dulu. Mataku terlalu berat untuk membaca, Aku tertidur.

Keesokan paginya kubuka lagi pesan Narti. Oh ternyata isinya reminder Reunian Jurusan 20 angkatan terakhir yg pernah di BC Rijal. Sayang sekali gumamku, Aku bahkan tak ingat kalau reunian itu kemarin dan besok Aku akan kembali ke Medan.


(Seminggu Kemudian)
Kring..kring..
"Yuk.. Yuk Siti, ada telepon dari Faisal." Teriak Papa dari ruang keluarga.


Bah, Faisal mana pula. Apa orang bank yg kemaren memaksakan kartu kredit itu ya. Atau yg beberapa hari terakhir ini tak henti-hentinya memping!! di BBM cuma hendak menanyakan hal yg dia bisa lihat diliteratur atau si pengusaha muda yg tadi malam kami bertemu. Wah Aku bahkan lupa nama mereka.. Ahaha..

"ya Assalamu’alaikum.." sapaku sesopan mungkin.

 "wa’alaikumsalam warahmatullah.. Siti ini Faisal. Masih ingat..?" jawabnya diujunh telepon.

 "Aduh sy lupa.. Faisal mana ya? Maaf  hehe.." jawabku polos. "Wah Faisal Sipil 07, kita temen sekelas Ti.. Tega banget sampe lupa gitu ya." ujarnya.

 "Oh..Faisal yg pendiem itu ya? yang Ketua angkatan kita kan..? wueh ada apa Fai nelpon kemari..?" sontakku heran.

"Hehe..Alhamdulillah masih inget. Gapapa Ti, menyambung silaturrahim aja..Gimana kabarnya?" tanya Faisal. "Alhamdulillah baik.. Gimana Faisal..?" tanyaku balik.

Belum sempat Faisal menjawab, Papa yg daritadi disampingku mondar mandir memberikan isyarat untuk meminta gagang telepon dariku. "Nak Faisal ya..?" tanya Papa. "Iya Pak." jawab Faisal.

Aku cuma bisa bengong ngeliat Papa yg jadi protektif begini. Sambil nguping pembicaraan mereka yg kurang jelas karena Papa memintaku menyeduhkan teh, Aku cuma bisa mendengar samar percakapan Papa yg menanyakan kapan Faisal akan kemari.. Hmm..

 "Pa, kenapa itu Faisal..?" tanyaku kepo.

"Dia mau silaturrahim kemari yuk, insya Allah Ahad nanti jam 9 pagi. Kau siapkan makan siang ya." ujar Papa tenang.

"haa..?" Aku masih bengong.
***

🌸Satu Bulan Lalu🌸

Aku masih antara bahagia dan bagaimana kerana awal mula telepon itu berlanjut pada apa yg kulakukan sekarang. Pagi-pagi sekali bersama Fahri, adikku yg masih SMP, kami tengah take off ke Cengkareng menuju rumah Faisal di Depok.

Pengalaman adalah guru terbaik, itu yg kurasakan saat ini. Belajar dari kegagalan proses sebelumnya, maka kami memutuskan untuk memperdalam tahap ta’aruf keluarga. Ya, Aku dan Faisal tengah berjuang ke arah sana.

Aku bertemu dg Keluarga Faisal. Mengobrol cukup banyak bersama Mamah dan Ayahnya.



Mamah banyak menceritakan kepadaku tentang bagaimana Faisal kecil hingga seperti saat ini. Aku minikmatinya sambil sesekali terpingkal dengan cerita Mamah.

Faisal lahir dg darah Sunda-Jawa. Mamah dari Cimahi dan Ayah dari Jogja. Kultur mereka jelas berbeda dengan keluargaku dimana Papa asli Batak dan Mamak dari Palembang. Di keluraganya belum pernah kudengar teriakan sebagaimana yg kerapkali terjadi di keluargaku. Jangankan jarak 10 meter, bicara depan muka pun terdengar bagai teriakan bagi mereka orang luar. Hehe..

Aku dan Faisal ternyata sangat kontras dalam hal psikologis. Aku anak pertama dengan dua adik laki-laki yang menuntutku untuk mandiri, tegas, dan cerewet. Sedangkan Faisal anak bungsu dengan tiga kakak perempuan yg menjadikannya terbiasa dispesialkan, manja dan lemah lembut dibanding laki-laki lain pada umumnya.


"Ketika Faisal menyampaikan ikhwal proses ini, Mamah agak terkejut krn ga menyangka dapet calon menantunya dari seberang lho nak.. Faisal memang penuh kejutan. Hehe.. Perbedaan antara nak Siti dan Faisal barangtentu ada mengingat kalian dilahirkan dengan kultur keluarga yg ga sama. Namun dengan demikian, harapannya ke depan kelak kalian mampu untuk saling memahami dan melengkapi. Mamah dan Ayah insya Allah merestui.. Sampaikan salam untuk Mamak dan Papa ya nak Siti.." ujar Mamah memberikan final statement sembari memelukku hangat.

 "Alhamdulillah.. insya Allah Mah nanti Siti sampaikan salamnya. Mohon bantu do’a ya Mah supaya proses ini lancar." balasku ceria.

"hu um.." timpal Mamah.

 "Ayah, kami pamit dulu ya.." Aku menyapa ayah, "Ga terasa ngobrolnya sampe sore begini. Hehe.. Kita harus mengejar penerbangan nih. Assalamu’alaikum.." ucapku sopan sambil menyalami keduanya.

"Wa’alaikumsalam.. hati-hati di jalan ya nak Siti.." jawab keduanya. "Faisal, antar lagi Siti ke bandara ya." perintah Ayah ke Faisal.

Selama di perjalanan menuju bandara, tak banyak perbincangan antara kami. Hanya sesekali Faisal menggoda Fahri yg perutnya makin buncit melahap semua yg dihidangkan Mamah tadi.

 "Hati-hati di jalan ya. Salam utk Mamak dan Papa. Assalamu’alaikum.." ucap Faisal sopan.

 "Insya Allah, wa’alaikumsalam warahmatullah.." jawabku singkat dan segera berpaling menuju terminal check in.
***


🌸Sekarang🌸

 Sepertinya Aku tidak asing dengan sosok yg berjalan menuju kami. MasyaAllah..
"Ummi..!" teriakku pelan langsung memeluk sosok nyata di depanku.
"Assalamu’alaikum..Kok bisa Mi..? MasyaAllah.. Kirain Ummi ga bakal dateng.." ucapku sontak.

"Hehe.. Alhamdulillah.. wa’alaikumsalam.. Kebetulan Abi mendadak diminta kantornya untuk ke Medan semingguan ini Ummi menemani, eh pas banget ngeliat notif di Fb jadi keingat sama walimahan Siti.. Hehe.." jelas Ummi sumringah. "Ohya ukht, ’afwan Ummi gabisa lama nih karena ada agenda penting selanjutnya. Barakallahu laka wa baraka ’alaika wa jama’a bainakuma fii khair.. " doa Ummi sambil memelukku.

Masih dalam canda tawa, beberapa saat kemudian kuantar Ummi ke pintu. "Ti.. Tahu nggak," bisik Ummi, "yg ngasih proposal pada saat itu Faisal lho.. "

 "Masya Allah.. Yang bener Mi..? Atuh kenapa dia belom bilang ya.. Hihi.." sontakku kaget yg diliputi bahagia.

"Hehe.. Itulah Allah sebaik-baik Pembuat Makar ya.. dan Segalanya tlah ditetapkan di Lauhul Mahfuzh.. Tinggal kita sebagai hambaNya mau menjalani dengan cara yg Dia ridha atau sebaliknya. oya, Ummi pamit ya Ti, assalamu’alaikum.." jelas Ummi dg gaya khasnya sambil berpamitan.

 "Hu um.. Alhamdulillah ya Mi.. Hihi.." ujarku sambil melambaikan tangan, "wa’alaikumsalam wrwb.."
***

Maha Kuasa Allah dg segala apa yg dikehendakiNya..

 "Are you happy, darl..?" tanya Faisal disampingku.

"Absolutely Yess.." jawabku sumringah.

"Alhamdulillah.." sergahnya dg senyum penuh sambil menggenggam tanganku.

"Alhamdulillah.." ikutku dg genggaman bahagia yg sama.

"Allahuakbar..!" tegar Faisal bertakbiratul ihram mengimami dlm shalat jama’ah perdana kami.

-the end-

Yang berbahagia..
Siti Hajar Qanitat & M. Faisal Ibrahim




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mewujudkan Keluarga Qur'ani

Faghfirli Yaa Rabb