Menikmati Hidup Bersahaja


Bukan rendah diri, bukan percaya diri, melainkan percaya Allah. Tidak terikat masa lalu, tidak terobsesi pada masa depan. Tidak bersedih atas remeh temeh masa lalu, tidak juga khawatir akan apa yang ada di depan, tapi sibuk dengan detiknya sekarang untuk meraih ridha Ilahi.Tidak menambah, tidak mengurangi, tapi adil.Apa adanya.Tidak kufur saat miskin, tidak sombong saat kaya, tapi mengisi kehidupan dengan sabar dan syukur.

Demikian selaksa air yang sejuk sebuah nasihat dari Ust. Ahmad Riawan Amin. Jujur, tidak berpura-pura. Alangkah indahnya bila kita menjalani hidup ini secara jujur, tidak perlu akting menjadi si Anu atau memaksakan diri seperti Anu melainkan tampil apa adanya saja. Bukan pula berarti tidak mau memperbaiki diri menjadi lebih baik. Ada analogi menarik yang mungkin kita udah akrab : kalau merasa hidup banyak tekanan, jangan-jangan karena banyakan gaya karena Gaya sebanding lurus dengan Tekanan (rumus Gaya). hehe..

Kita akan lebih aman dengan hidup bersahaja, karena sederhana itu pilihan. Ingat ya, pilihan. Ada yang mapan tapi tampilan sederhana saja, ternyata baginya ga begitu prioritas tampil glamour dibanding charity / prestasi yang disalurkan. Pernah lihat kan, orang kaya yang ditanya kekayaannya malah ketawa aja, ditanya jam tangan merk apa hanya tersenyum sambil berseloroh "saya ga up date trend, padahal saya mempunyai beberapa toko di mall yang menjual barang-barang bermerk." Terakhir saya tahu, beliau adalah orang terkaya nomor 4 di Indonesia, seorang anak petani singkong.. Hayoo siapa dia, wah bukan saya ^_^

Namun ada pula, yang dengan penghasilan sekian justru memaksakan diri tampil megah hingga harus berhutang. Bukan perkara hutangnya karena hutang-piutang mah biasa aja dalam hal muamalah / bisnis, tetapi penyebab&fungsi hutang itu yang menjadikannya berbeda. Kebetulan saya sedang berbisnis furniture, sebagai seorang pebisnis penyebab pelanggan berbelanja tidak mejadi penting, right? Asal deal, selesai. Hmm Saya agak mengerenyitkan dahi keheranan, ada yang rela "menyiksa" diri dengan mengikuti keinginan. Bagi saya bila itu urusan aset dan kepala ke atas gapapa membayar mahal, tapi kl kepala ke bawah ya mikirlah.. apalagi yang sifatnya liability (kewajiban) dimana arus kasnya keluar, hehe..

Uang belasan juta hasil bonus kerja bisa habis cuma untuk hal-hal yang bentuknya kewajiban. Apa liability  itu..? Robert T Kiyosaki menuturkan bahwa liability adalah sesuatu yang membuat kita mengeluarkan uang dari kantong kita, sedangkan asset kebalikannya. Apapun itu, seperti rumah, perabot rumah tangga, mobil juga bisa jadi kalo ga mneghasilkan income, gadget yang dimanfaatin cuma sebagai entertainment adalah kewajiban. Yang makin bikin saya greget, pelanggan saya ini bener-bener dalam hal memenuhi kewajiban tadi. Bisa dikatakan, Semua pendapatnya saat ini dan di masa depan hasil kerjanya udah "diinvestasikan" utk membeli kewajiban. Wow, bukan saya ga bersyukur dia belanja ke saya, itu mah urusannya beda lagi atuh, ini tentang mindset. Pernah juga menyaksikan orang yang relah berhutang dalam jumlah besar untuk membangun/mengisi rumah? Pada umumnya orang menganggap bahwa ia sedang membangun aset, No. Karena sebagus apapun rumah ga menghasilkan uang kecuali kalo ia disewakan.. Kalo cuma ditinggali, itu cuma muasin mata. Jadi mending ngontrak ni? Ya ga juga say.. Kembali lagi ke tajuk awal, Tampil saja secara jujur.. Apa adanya.. Sesuai kebutuhan. Bila kebutuhan kita cukup 2 kamar, ga usah bangun rumah 5 kamar tapi bagus juga kalo 3-nya dikos-kan. Lol...

Oiya, anyway saya bersyukur karena saya dilahirkan dari orang tua yang tidak begitu mementingkan isi rumah. Ayah dan ibu sangat kuat konsentrasinya pada pendidikan kami anak-anaknya. Saya merasakan kami harus bersabar tidak memiliki banyak perabot rumah tangga dan tidak setiap hari makan lauk pauk menggugah selera seperti tetangga karena kami harus berhemat untuk biaya pendidikan. Tiga anak kuliah dalam waktu bersamaan. Tentu ini bukan hal yang mudah bagi PNS seperti orang tua saya, mereka tidak punya side job kayak bisnis atau investasi karena mereka bukan tipe pemain resiko, mereka hanya mengandalkan gaji dan tunjangan. Tapi getir inilah yang mengajari kami rasa manis itu. Barulah satu persatu kami selesai kuliah dan memiliki job maupun income, sedikit demi sedikit bisa mengalokasikan pengeluaran dalam bentuk barang cuci mata. ^_^

Mau VS Butuh. ^_^

Saya juga gi belajar ni menyikapi antara keinginan dan kebutuhan, sama-sama yuk,,!Saya ingat betul, jaman kuliah di Bogor, saya tipe yang menuhin kepala ke bawah, muasin perut. Uang bulanan beasiswa (karena kami kaum yang menerima donasi pemerintah an.Kementrian Perindustrian) nampak sebagai tiket "surga" bagi kami untuk jajan. Kami (terutama saya dan teman sekamar) biasa belanja bulanan tapi habisnya mingguan, alhasil sisa waktu berikutnya ngemis lagi ke orangtua supaya ditransferin uang. Begitu terus sampe hampir selesai kuliah, baru agak tobat. Substitusi belanjaan, Dari makanan beralih ke jilbab &buku. :D Tetap disyukurin karena jilbabnya saya pake dan semua bukunya saya baca tuntas. 

Pasca kampus akademi, saya bertransformasi menjadi mania pembeli buku. Yup, pembeli bukan pembaca. Dari semua yang saya beli, cuma beberapa yang saya baca sampai selesai. Saya agak mengalami kendala krisis hasrat untuk menuntaskan bacaan tingkat berat eg. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir (padahal udah ringkasannya tapi 5 jilid buku setebal kamus sesuatu yang memerlukan ketinggian hasrat), Fiqh Sunnah Sayid Sabiq, Ekonomi Cina dan sejenisnya. Belum lagi buku-buku hadiah dari Ayah, yang bila ditumpuk kurasa mencapai 1m lebih. Lol.. Anyway, semoga ga paranoid ngoleksi buku ya.. coz gapapa keleus ya diawali ngoleksi dulu. Selanjutnya bisa eh harus alokasikan waktu untuk membaca. Dan untuk yang punya 'kambuhan' beli-beli jilbab tanpa pertimbangan matang kayak saya, sebagai 'penebus dosa', kita bisa sharingkan barang tsb ke para kerabat/sesama.. Cantik bukan ^_^

Keliatan ya gimana saya kurang pandai menyiasati antara kebutuhan dan keinginan. Experience is the best teacher. Kata-kata bijak yang kita bisa dapatkan dengan mudah sebagai catatan kaki buku tulis. :DNah, alhamdulillah, Thanks God banget, sekarang ga separah itu lagi.. Untuk urusan kepala ke bawah insya Allah kelar. Hidup 'keras' jaman perantauan berhasil mengubah diri saya menjadi penikmat setiap menu. Dulu saya ogahan makan tahu tempe, Demi menikmati makanan bergizi (protein dengan harga miurah) dengan keuangan tipis di masa kuliah, kini setiap berbelanja ke pasar,keduanya jadi akrab. hehe..

Bisa karena biasa, right? Yang kita perlukan adalah membentuk polanya sehingga menjadi terbiasa. Saya sewaktu membeli gadget (android) berdasarkan spesifikasi yang dimilikinya bukan lagi karena merek (disisi lain, brand menampilkan kualitas produk jadi tindakan ini ga bersifat prinsipal). Saya telusuri dulu spek barangnya, saya butuh kamera dengan resolusi cukup tinggi karena hal ini memegang peranan penting dlm memasarkan produk dan sofware yang bisa ngebut. Saat itu gi anyarnya jelly bean, dan dia punya. Yess, right man eh product! Kita butuh yang tepat, bukan sekedar mau. Jika pun yang tepat itu punya harga, itu hanya resiko kecil dalam kesungguhan mendapatkannya. Terpenting tepat guna bukan cuma gaya ^_^

Mudah-mudahan ke depan kita bisa Hidup secara jujur coz jujur ini sudah wataknya lebih aman dalam hal apapun baik ketika berbelanja, karir, bisnis, muamalah maupun dalam menentukan kriteria pasangan. Jujur bukan berarti sikap stagnan terhadap perubahan konstruktif melainkan kejujuran kita kepada Allah.. Diawali dari kejujuran sebuah niat.. (ust. Salim)

Baiklah.. sekian dulu ya, mudah-mudahan ada kebaikan dari tulisan ini.. Mohon maaf apabila ada khilaf dalam penyampaian, tidak bermaksud menggurui apalagi menghakimi., Semata-mata ingin berbagi dari pengalaman sendiri yang mungkin ada hikmah di dalamnya.. Monggo sekali kritik dan saran konstruktifnya.. ^_^

Kebenaran adalah milikNya dan tiada yang mudah kecuali apa yang Allah jadikan mudah. Akhirul kalam, wa ta wa shawbil haq, watawa shabishobr.. 

Baturaja, 21 Juli 2014 (ditengah dagdigdug Hasil KPU PilPres&10 akhir Ramadhan Kareem)
Salam Hangat, 

Agatha Rizky Ardang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mewujudkan Keluarga Qur'ani

Faghfirli Yaa Rabb